Get To Freedom Information And Business :

Advertise

Hubungan shalat lima waktu dengan unsur elemen

Sunday, April 14, 2013 | 0 comments


Unsur Elemen Dalam shalat :
Ihram (Berdiri) = Hakikat unsur Api atau hakikat Malaikat Izrail.
KAKI (sifat Qahar Allah).
Munajah (Ruku’) = Hakikat Angin atau hakikat Malaikat Mikail.
PUSER (sifat Jamal Allah).
Mi’raj (Sujud) = Hakikat Air atau hakikat Malaikat Jibril.
DADA (sifat Jalal Allah).
Malaikat Jibril dalam sujud = Jibril menemani rasul pada waktu Isra’ dan Mi’raj dari Masjidil Haram (hati) ke Masjidil Aqsa (Arasy/otak) terus ke Sidratul Muntaha, tetapi Jibril tidak sampai ke rab-rab buana (sidratul muntaha/lapisan langit ke 7).
Tabdil (Duduk) = Hakikat Tanah atau hakikat Malaikat Israfil.
KEPALA (sifat Kamal Allah).
ketika kita sedang melakukan shalat secara tidak langsung energi kita menyerap energi kelima unsur dasar elemen alam semesta. untuk orang yang tahu tentang ilmu ini silahkan berbagi ilmu disini.
Unsur  Saefi Geni
Api nama lainnya asch (ibrani), agni, geni, seneu, teja, ahmar,  dll.
- malaikat agung yg mengatasi api adalah mikail.
- arahnya selatan, warnanya merah.
- planetnya matahari.
-sahabat nabi yg mempunyai sifat api yaitu sifat haebah/disegani adalah umar al-faruq.
- dalam rukun islam unsur api ada pada puasa.
-unsur api dalam shalat ada pada posisi berdiri.
- jiwa (nafs) yg berunsur api adalah nafsu amarah.
sifat baiknya : semangat, bergairah, -sifat buruknya: emosional, angkuh, sombong dan keras kepala.
orang yang ingin menguasai unsur api (saefi geni) maka ia harus bisa mengendalikan sikap buruk dari unsur api tsb.
Rahasia Dibalik Waktu Shalat
a. Shalat dzuhur  ( terapi jantung dan usus kecil )
Waktu menjalankan shalat dzuhur yaitu mulai dari condongnya matahari sampai dengan apabila bayang-bayang suatu benda sama panjang dengan benda tersebut. Waktu pelaksanaan shalat zuhur yaitu waktu yang tepat untuk melakukan terapi organ jantung,yaitu pada pukul 11.00 – 13.00. Waktu zuhur adalah saat kita berada di puncak kepenatan akibat aktivitas sepanjang siang. Dengan melakukan shalat zuhur sebagai bentuk relaksasi dan dipadukan dengan basuhan air wudhu’, panas jantung yang berlebihan bisa menjadi normal kembali. Akhirnya hal ini mempengaruhi sitem lainnya, karena fungsi jantung yang merupakan “penguasa” pembuluh-pembuluh. Jantung memompa darah agar selalu mengalir untuk membawa sari-sari makanan yang dibutuhkan oleh organ-organ lainnya. Tubuh kita yang penat dan pikiran kita yang sumpek akan tersegarkan kembali dan siap melanjutkan aktivitas.Jantung merupakan organ yang biasa dihubungkan dengan proses mental.
Beberapa bentuk tekanan emosional seperti pusing, berdebar-debar, sesak napas, dan kemunduran vitalitas merupakan gejala-gejala umum dari penyakit jantung. Kemunduran chi jantung ditandai dengan kelemahan secara umum, seperti bicara terengah-engah, pernapasan yang pendek-pendek, dan sering berkeringat.Jika wajah bengkak dan berwarna tidak cerah, kaki dan tangan terasa dingin, ini dinamakan kemunduran chi jantung. Gelisah, lekas marah, pusing, kehabisan akal, dan tidak bisa tidur adalah gejala kemunduran darah jantung. Bisa juga terasa aliran darah yang deras pada telapak tangan dan wajah, serangan demam ringan, dan berkeringat pada malam hari.Gejala kelebihan chi jantung adalah akibat panas jantung. Ini terlihat dalam serangan demam tinggi, yang kadang-kadang disertai dengan menggingau, perasaan berdebar-debar yang mengganggu, kegelisahan yang sangat, tidak dapat tidur, dan sering mimpi buruk, wajah berwarna merah padam, lidah berwarna merah, atau terasa panas dan sakit, dan sering merasa panas ketika buang air kecil.
b. Shalat ashar ( terapi kandung kemih )
Waktu pelaksanaannya yaitu mulai bayang-bayang suatu benda telah sama panjang atau bayang-bayang suatu benda melebihi sedikit dari benda tersebut  sampai dengan matahari terbenam .shalat ini disebut sengan shalat wustha , karena diwaktu ini manusia banyak disibukkan oleh pekerjaan masing-masing dan siapa saja yang meninggalkan kesibukannya dan menjaga waktu shalat ashar pahalanya sangat besar di sisi Allah SWT.
Seperti firman Allah SWT :
حا فظوا علي الصلوا ت الوسطي
Peliharalah semua shalat itu dan shalat wustha ( al baqarah 238)
Biasanya waktunya yaitu pukul 15.00 – 17.00,yang merupakan waktu yang tepat untuk melakukan terapi kandung kemih karena pada saat itu mulai terjadi kesesuaian secara perlahan antara hawa tubuh manusia dan hawa di sekitarnya, perubahan dari hawa udara yang panas menuju dingin.Fungsi utama kandung kemih adalah mengubah cairan tubuh menjadi air kencing dan mengeluarkannya dari tubuh. Jika fungsi tersebut berjalan, terjadilah keseimbangan kimiawi dalam tubuh sehingga metabolisme terjaga. Jika fungsi ini terhambat, akan terjadi penumpukan cairan yang tidak bermanfaat dan mengandung racun sehingga mempengaruhi kerja organ-organ internal lainnya. Jika ini terjadi, proses pendinginan tingkat chi yang seharusnya dikeluarkan menjadi menumpuk dan menimbulkan panas yang tinggi, yang akhirnya mempengaruhi pula kerja ginjal.Jadi, ibadah shalat ashar bermanfaat untuk meningkatkan daya kerja kandung kemih sehingga dapat lancar mengeluarkan racun yang diakibatkan oleh proses kimiawi tubuh yang berlangsung selama aktivitas sepanjang siang.
c. Shalat magrib ( terapi ginjal )
Shalat Maghrib dilaksanakan pada waktu sesudah matahari terbenam hingga lenyapnya mega merah di sebelah barat. waktu pelaksanaan shalat maghrib merupakan waktu yang tepat untuk melaksanakan terapi organ ginjal. Waktu maghrib adalah saat-saat hawa udara semakin menurun, dan sistem organ juga mulai menyesuaikan diri dengan energi di sekitarnya.Ginjal dan kandung kemih adalah organ yang berpasangan. Kedua organ tersebut mengontrol tulang-tulang, sumsum, dan otak. Bertanggung jawab terhadap fungsi-fungsi pertumbuhan, perkembangan, dan reproduksi. Kesehatan kedua organ internal ini tercermin pada kondisi rambut kepala. Mereka memainkan peran yang sangat penting dalam metabolisme air dan mengendalikan cairan tubuh, dan juga menjaga keseimbangan panas dan dingin yang sangat fundamental bagi tubuh.Untuk mengetahui gejala-gejala kemunduran energi dingin ginjalsesungguhnya mudah.
Biasanya, punggung bagian bawah terasa lemah dan sakit, ada suara mendengung pada kedua telinga dan kehilangan ketajaman pendengaran, wajah berwarna keabu-abuan dan gelap, khususnya di bawah kedua mata. Biasanya kepala terasa pusing, haus dan berkeringat di malam hari, dan sering masuk angin ringan.Gejala-gejala kemunduran energi panas secara signifikan berkaitan dengan kehilangan energi atau panas. Serupa dengan kemunduran energi dingin ginjal, ada dengungan pada telinga, pusing, dan rasa sakit di punggung bawah. Namun rasa sakit ini ditandai dengan rasa dingin, lemah, dan lesu yang sangat. Biasanya kemunduran energi dingin ginjal menimbulkan gangguan pada jantung dan hati, sedangkan kemunduran energi panas ginjal mengganggu fungsi-fungsi limpa kecil dan paru-paru. , waktu pelaksanaan shalat maghrib merupakan waktu yang tepat untuk melaksanakan terapi organ ginjal. Waktu maghrib adalah saat-saat hawa udara semakin menurun, dan sistem organ juga mulai menyesuaikan diri dengan energi di sekitarnya.
d. Shalat isya’ ( terapi perikardium )
Shalat Isya dilaksanakan setelah habis waktu maghrib hingga menjelang shubuh. Fungsi perikardium adalah membuang kelebihan energi jantung dan mengarahkannya pada titik Laogong yang terletak pada pusat telapak tangan. Dari Laogong, kelebihan energi akan dilepaskan secara alamiah sehingga terciptalah stabilitas tingkat energi jantung. Titik Laogong digunakan dalam ilmu kesehatan China untuk mengurangi suhu tubuh selama terkena sakit demam.
Waktu yang tepat untuk melakukan terapi organ perikardium adalah pada pukul 19:00 – 21:00. Pada waktu tersebut hawa di sekitar sudah mulai rendah daripada hawa tubuh. Maka, diperlukan penyesuaian sistem energi di dalam tubuh manusia untuk bisa menyesuaikan diri dengan hawa di sekitarnya.Pada waktu pelaksanaan shalat Isya, dimulailah penurunan kerja organ internal yang telahdigunakan dalam aktivitas sehari-hari. Tubuh memasuki masa istirahat, terutama kerja jaringan otot yang digunakan untuk gerak dan berpikir. Waktu isya bisa disebut sebagai masa pendinginan keseluruhan sistem organ dan saraf. Proses pengistirahatan tubuh kemudian disempurnakan dengan tidur pada malam hari. Akan tetapi bila dilihat dari sudut pandang agama waktu yang lebih utama untuk melaksanakan shalat isya’ yaitu ketika waktu sepertiga malam. Karena waktu ini merupakan waktu yang mustajabah dan diberkahinya suatu doa.
e. Shalat subuh ( terapi paru-paru )
Waktu pelaksanaan Shalat Shubuh adalah sejak terbit fajar shadiq sampai hampir terbit matahari . Shubuh merupakan waktu yang tepat untuk proses terapi sistem pernapasan dan paru-paru, karena pada pagi hari udara masih bersih, oksigen masih segar. Dari paru-paru, darah mengambil “bahan bakar” yang masih baru & bersih, akhirnya keseluruhan organ menerima pasokan nutrisi yang bersih. Selanjutnya tubuh menjadi segar kembali dan otak menjadi jernih.Penelitian mutakhir dalam ilmu medis Barat juga mengungkap manfaat kebiasaan bangun pada waktu shubuh.
Ditemukan bahwa pada dini hari sekitar pukul 3.00 – 5.00 terjadi proses detoksin (pembuangan zat racun) di bagian paru-paru. Oleh Karena itu, biasanya selama durasi waktu ini, penderita batuk akan mengalami batuk hebat. Ini karena proses pembersihan (detoksin) telah mencapai saluran pernapasan.Paru-paru dan usus besar merupakan organ yang saling berpasangan. Usus besar merupakan pengatur panas dalam perut. Jantung termasuk organ yang memiliki sifat panas. Apabila jantung memiliki sifat panas yang berlebihan, dengan pernapasan yang dilakukan pada saat udara benar-benar bersih, kita dapat mengarahkan panas jantung ke paru-paru dan dengan demikian mendinginkan panas dalam perut. Selain itu sholat subuh merupakan shalat yang paling afdhal , sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW :
افضل الصلوا ث عند اللله صلاة الصبح يوم الجمعة في جماعة
Utama utamanya shalat di hadapan Allah yaitu shalat subuh pada hari jum”at secara berjama’ah
tahukah anda ternyata menurut beberapa orang peneliti shalat tahajud bisa mencegah dari serangan penyakit strok.
Diantara keafdhalannya shalat yaitu:
1. Allah membangakan di hadapan para malaikat orang yang meninggalkan pembaringannya lalu bangun untuk melakukan shalat.
2. Allah memberi cahaya pada hari kegelapan pada siapa saja yang keluar untuk melaksanakan shalat subuh. Cahaya orang mukmin pada hari kiamat bertingkat-tingkat,setiap mukmin mempunyai cahaya yang berbeda-beda. Mereka mendapat cahaya sesuai amal mereka, di sinilah terlihat peran dari shalat subuh, yang mana Allah akan memberi cahaya yang sempurna bagi seoran mukmin pada hari kiamat kelak.
3. Dua rakaat subuh lebih baik dari dunia dan seisinya.
Seperti sabda Nabi Muhammad SAW :
ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها
Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan isinya.
4. Sesudah melaksanakan shalat subuh ,akan menjadikan seseorang masuk dalam perlindungan dan pemeliharaan Allah SWT.
Dan bagi seseorang yang tidak melaksanakan shalat subuh tepat pada waktunya ,berarti kupingnya telah dikencingi oleh setan,  sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW.
ذكر عند النبي محمد صلي الله عليه وسلم رجل نام ليلة حتي اصبح , قا ل : ذا ك رجل با ل الشيطان في اذنه.
Ketika di hadapan rasul SAW.disebutkan bahwa ada seorang laki-laki yang tidur sampai siang , beliau bersabda ,orang itu telinganya dikencingi oleh setan.
Bagaimana? Itulah manfaat shalat, baik dari segi waktu maupun gerakan yang didapat. Dan pasti masih banyak rahasia dan manfaat yang terkandung dalam pelaksanaan shalat. Wallahu’alam Bisawab
Continue Reading

Nama Tuhan berubah tiap jaman, Energi Tuhan tetap sama sepanjang jaman

Thursday, April 11, 2013 | 0 comments


tulisan oleh Kandjeng Pangeran Karyonagoro
Mencampur-adukan sejarah religi kelompok bangsa tertentu dan menempelkan satu nama tuhan baru sebagai tuhan utama adalah strategi umum yang digunakan oleh beberapa manusia jenius atau kelompok tertentu. Di penghujung artikel, kita lihat padanan tindakan ini dengan kisah sekumpulan orang buta dari sejak lahir yang mencoba menjelaskan bentuk seekor gajah.
Tiga agama abrahamic, yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam sama-sama mengklaim Musa [Nav Mosyeh] sebagai nabi dan mencantumkan kehidupannya sebagai bagian dari sejarah mereka.
Dalam Sefer Syemot di Kitab Torah, Tiga bulanan setelah Musa membebaskan keturunan Israel dari perbudakan bangsa Mesir, Ia menuju Gunung Sinai untuk menghadap Yahweh dan berdiam 40 hari dan 40 malam lamanya. Di sana, Yahweh kemudian menuliskan sendiri 10 Perintah-Nya di dua lempengan batu. Ketika Musa turun dilihatnya Harun membuat patung anak sapi untuk disembah. Musa marah dan membanting 2 batu itu hingga pecah. Dikemudian hari, Musa melakukan ritual yang sama untuk mendapatkan lagi 2 batu itu.
Apa isi 10 perintah Yahweh itu?
Menurut Literatur rabinic yang ada di kitab Tanakh [Di Alkitab adalah perjanjian Lama], yaitu kitab yang berisi Torah [5 Buku, ajaran secara oral/hukum oral, kemudian di bukukan menjadi Talmud [Mishnah dan Gemara]dan Midrash], Nevi’im [8 buku, nabi-nabi] dan Ketuvim [12 buku, tulisan-tulisan] di tuliskan:
1. Akulah TUHAN [Y@hovah, YHWH, JEHOVAH], Allahmu [Elohim], yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada allah lain di hadapan-Ku..[..]
2. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi..[..]
3. Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan..[..]
4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat
5. Hormatilah ayahmu dan ibumu..[..]
6. Jangan membunuh
7. Jangan berzinah
8. Jangan mencuri
9. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu
10. Jangan mengingini isteri tetanggamu.
Apa yang dapat kita pelajari dari 10 Perintah Tuhan ini?
Jika kita perhatikan, perintah ke-1 s/d ke-3 memberikan kita beberapa hal penting:
* kata ‘Isra-El’ artinya adalah Ia yang menang bergulat melawan Allah [El], Israel adalah nama lain dari Yakub [Perjanjian lama, kitab kejadian 32:24-30]. Semua keturunan yakub kemudian dinamakan kaum Israel.
El adalah dewa utama kaum kuno yang tinggal di Barat laut semit yang berbahasa Ugaritic (sudah punah), Canaanite (termasuk yahudi) Aramaic, Arabic]. El bersitrikan Dewi Aserah. El adalah nama generik dari sebutan tuhan/dewa. El juga berarti ELI, ILAH [arab], ‘alāh/’elāh [Aramaic] dan ‘elōah [Ibrani]
Bentuk plural El pada bahasa ugaritic adalah ʾilhm, atau ʾelōhîm setara denngan Elohim dalam bahasa ibrani.
Di Kitab Talmud El adalah: Baal/Hadad, Moloch atau Yahweh [YHWH, Y@hovah, Jehovah]. Biasanya kata YHWH dianggap sakral dan dihindari untuk disebutkan, Para yahudi mengganti sebutannya menjadi Adonai [setara dengan Adonis dalam bahasa yunani yang artinya tuanku.
Dalam romawi, El adalah Elus/Cronus, anak pasangan ouranous [Dewa Langit] dan Gaia [dewi bumi]. El adalah cucu dari Elioun/Elyon. Dalam bahasa Canaanite, El adalah anak dari Shamayim [dewa Langit] Eretz [dewi Bumi] adalah eretz
* YHWH atau ELOHIM adalah tuhannya kaum Israel. Karena YHWH/Elohim membebaskan kaum Israel dari orang-orang MESIR artinya juga sangat jelas yaitu YHWH/Elohim bukan tuhannya orang-orang Mesir [dan semua bangsa-bangsa selain kaum Israel]
* Di Nasrani, dalam Kitab perjanjian lama di Injil [yang juga berisi Torah dan talmud] tercantum dengan jelas bahwa keturunan Yahudi menyebut tuhan mereka dengan nama YHWH dan Elohim.
Walaupun Yesus adalah keturunan Yahudi namun catatan perjalanan kehidupannya di perjanjian Baru, yang dibuat oleh orang lain, yang ditulis dalam bahasa Yunani [klaim kalangan nasrani: di tuliskan oleh beberapa orang dari 12 murid Yesus] tertulis bahwa tuhannya yesus bukanlah YHWH/ELOHIM namun Theos.
Theos [Yunani]/Deus [latin] merupakan bentuk maskulin dari Thea [Yunani]/Dea [Latin], yang artinya dewa dan dewi.
Ketika Yesus masih hidup, 12 orang murid dipilih langsung oleh Yesus. Nama ke-12 murid itu tercantum di pintu gerbang surganya Nasrani dan mereka jugalah yang menjadi Hakimnya.
Setelah Yesus wafat dan Yudas salah seorang muridnya juga tidak ada, maka untuk menggenapi jumlah 12, Dihadapan 120 orang, diusulkan 2 nama dan setelah dilakukan pengundian, Mathias terpilih menjadi rasul yang ke-12 untuk menggantikan kedudukan Yudas. [Kisah Para Rasul 1:15-26]
Setelah beberapa waktu berlalu, Di satu tempat dekat Damsyik, seorang peranakan Yunani dan Yahudi bernama Saulus, mengangkat dirinya sendiri sebagai murid yesus. Saulus beralasan bahwa ia bertemu roh Yesus dan setelah beberapa hari kemudian dengan model pengakuan yang sama ia menyatakan bahwa Roh Yesus melantiknya menjadi Rasul Bangsa lain. Saulus kemudian berubah nama menjadi Paulus
Semua murid Yesus mencantumkan Musa sebagai bagian dari sejarah religi mereka akan tetapi tuhan yang mereka sembah bukanlah YHWH/ELOHIM melainkan Yesus dan juga Theos [bentuk maskulin daripada Thea]
* Di Islam, Taurat [alttawraat]-nya Musa disebutkan sebanyak 16 X di Alqur’an [AQ 3:3, AQ 3:48, AQ 3:50, AQ 3:65, AQ 3:93, AQ 5:43-44, AQ 5:46, AQ 5:66, AQ 5:68, AQ 5:110, AQ 7:157, AQ 9:111, AQ 48:29, AQ 61:6, AQ 62:5].
Al Qur’an menyatakan bahwa Taurat-nya Musa diturunkan oleh Allah SWT dan bukan oleh YAHWE/Elohim.
Selama 11 Tahun masa kenabian Muhammad, dari mulai diangkat sebagai Nabi hingga peristiwa Isra Mira’j tidak dijelaskan bagaimana ritual Menyembah Allah SWT di lakukan oleh Muhammad dan pengikutnya. Setelah Isra Mira’j, perintah Shalat di turunkan dan Kiblat shalat adalah menghadap Yerusalem [Baitul Maqdis]. Ini berlangsung selama 16 bulanan lebih. Ritual menyembah tuhan dilakukan dengan cara yang berbeda dari yang dilakukan selama berabad-abad oleh kaum Yahudi namun kiblat mereka sama.
Di AQ 2:143-144, 149-150, terdapat peristiwa perpindahan Qiblat, yaitu dari arah Baitul Maqdis ke Masjidil Haram.
KH.Drs.A. Masduqi Machfudh menjelaskan bahwa tujuan kiblat ke Baitul Maqdis adalah untuk menjinakkan hati orang-orang Yahudi, karena kiblat mereka adalah Baitul Maqdis dan untuk menarik mereka kepada syari’at Al Qur’an dan agama yang baru.
Namun Orang-orang Yahudi itu berkata: “Muhammad menyalahi agama kita tetapi mengikuti kiblat kita”. Sikap orang-orang Yahudi tersebut membuat Nabi Muhammad saw tidak senang [Khulashatul Kalam fi Arkanil Islam, Sayyid Ali Fikri, KH.Drs.A. Masduqi Machfudh, Ramadlan 1416 H] kemudian lewat perantara malekat jibril, turunlah perintah pindah kiblat Baitul Maqdis ke Ka’bah, yaitu di tempat yang sama di mana kaum Arab selama berabad-abad juga melakukan ritual-ritual pada sesembahannya, Di antara banyak suku arab tersebut, suku Quraish adalah salah satunya. Diantara para sesembahan yang ada saat itu, Allah SWT adalah salah satunya. Allah SWT merupakan tuhannya kaum Quraish.
Ibn kathir di tafsir AQ 2:114, menjelaskan bahwa setelah penaklukan Mekkah para penyembah berhala [termasuk Yahudi dan Nasrani] yang kedapatan masuk Masjidil Haram akan dijadikan budak atau dibunuh kecuali mereka masuk Islam. Nabi Muhammad menyatakan bahwa dua agama [Nasrani dan Yahudi] tidak boleh ada semenanjung Arab dan harus di usir keluar!
Islam dan Nasrani sama-sama memasukan sejarah religi bangsa Yahudi ke dalam ajaran mereka dengan mengakui kenabian Musa namun demikian mereka menolak mengakui YHWH/ELOHIM-nya kaum yahudi sebagai tuhan dan secara sepihak menyatakan sesembahan baru merekalah yang merupakan satu-satunya Tuhan yang wajib di sembah.
Tuhan kaum Yahudi, Nasrani dan Islam jelas satu sama lainnya namun yang lahir belakangan selalu mengklaim bahwa tuhan di ajarannyalah sebagai satu-satunya tuhan yang asli. Untuk mempertahankan klaim itu, tradisi saling berbaku hantam tampaknya melekat erat di 3 ajaran ini.
Continue Reading

Jamus Kalimosodo

| 0 comments


tulisan oleh: Kandjeng Pangeran Karyonagoro 2001
Sadulu Papat Lima Pancer
Papat kalima pancer merupakan sebuah wacana yang perlu terus kita gali dan kita renungkan plus bertukar fikiran dengan orang-orang tua kita yang sudah mumpuni baik dari ilmu tahid dan ilmu rasanya. Menurut petunjuknya papat kalima pancer itu pusatnya ada di PANCER (yaitu lubuk hati yang paling dalam) dan PAPAT-nya adalah unsur-unsur ilahi yang kita sendiri hak untuk mendapatkannya. Karena dengan menggunakan PAPAT itu kita bisa selalu ingat kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagai penguasa alam semesta ini.
Papat yang pertama adalah nur-nya Allah (Nurullah=Cahaya dari Allah) bias dari asma-asma Allah dan sifat-sifat Allah, tanda dari PANCER-nya yaitu dalam segala sesuatu/ gerak gerik selalu BERSERAH DIRI kepada Allah dan pengakuan kita sebagai mahluknya merasa tiada daya secara ruhani dan tiada kekuatan secara jasmani kecuali hanya Allah yang memberikan gerah hidup dan kehidupan, dan berupaya untuk selalu meng-ibadahkan segala sesuatu untuk BERIBADAH kepada Allah memohon Ridho Allah, Rahmat Allah.
Papat yang kedua adalah NUR MUHAMMAD (cahaya syafa’at yang Allah cipta untuk Hambanya (Rasulullah) yang Allah mulyakan. setelah kita berserah diri kepada Allah lewat PANCER (lubuk hati yang paling dalam) ada sebuah kelembutan sebagai sebuah rahmat yang Allah berikan kepada mahluknya agar kita tunduk dan lemah lembut kepada Allah, selalu merasa sayang kepada apapun dan siapapun sebagaimana Rasulullah mempunyai perangai yang lembut dan berahlak mulia bagi semua mahluk.
PAPAT yang ketiga yaitu MALAIKAT sebagai kendaraan untuk membawa NURULLAH dan NUR MUHAMMAD tadi kedalam diri kita pada waktu kita berserah diri kepada Allah dan mengibadahkan segala sesuatu hanya untuk Allah dan fungsi malaikat ini untuk membantu memintakan permohonan ampun mendoakan kepada kita sebagai mahluk yang lemah, banyak berbuat dosa (karena manusia tempat salah dan lupa) dan nominal mereka tidak sedikit mendukung kita dalam beribadah kepada Allah.
PAPAT yang ke empat adalah KAROMAH yaitu berisi doa-doa dari para orang sholeh terdahulu (doa dari para Rasul-rasul, Nabi-nabi, dan para Auliya serta Sholihin yang telah mendahului kita) yang oleh allah diberikan kesempatan untuk membantu mendoakan segala hajat hidup kita dalam mengarungi kehidupan didunia sebagai bekal ibadah nanti kita setelah meninggal (akhirat).
Semoga Allah mengampuni kedua orang tua kita, keluarga kita, mengampuni kita, dan orang-orang yang mempunyai hak dan kewajiban atas kita yang seiman serta mengampuni sesepuh-sesepuh kita. Semoga Allah memberikan Taufiq dan hidayah kepada kita dan mereka dan semoga kita dan mereka semua dijadikan golongan dari hamba-hamba Allah yang sholeh.
ADABEBERAPA VERSI yang menginterpretasikan JAMUS KALIMOSODO.
1. ada yang menginterpretasikan 2 kalimah syahada
2. ada yang menginterpretasikan lahirnya pancasil
3. ada yang menginterpretasikan tokoh pewayangan pandawa lima, apakah semua nya salah? tentu tidak…karena  cara pandang setiap orang tidaklah sama.
Hal yang terpenting adalah jangan sampai kita kehilangan ISI/makna dari Jamus Kalimosodo sebagai orang yang berpengertian jawa yang mendapatkan warisan dari leluhur Jawa, pengertian jamus kalimusodo secara singkat adalah:
Istilah jamus kalimosodo terdapat dalam kisah pewayangan baratayudha, suatu jamus/surat yang ada tulisannnya tentang pengertian/kawruh. “barang siapa mendapat kawruh ini ia akan menjadi raja/mempunyai kekuasaan yang besa. kitab ini dimiliki oleh prabu yudistira(samiaji) yang selalu menang dalam peperangan dan akhirnya masuk surga tanpa kematian…memiliki dalam hal ini adalah bukan saling berebut tetapi saling berebut memiliki makna.
Arti Kalimasada terdiri dari beberapa bagian:
Ka= huruf/pengejaan Ka, Lima=angka 5, Sada= lidi/tulang rusuk daun kelapa yang diartikan Selalu, Jadi kelima ini haruslah utuh(selalu 5), Kelima unsur kalimasada teridiri dari:
1. KaDonyan(Keduniawian).
ojo ngoyo dateng dunyo yang arti singkatnya adalah jangan mengutamakan hal-hal yang bersifat duniawi, kebutuhan duniawi kita kejar tapi jangan diutamakan.
2.   Ka Hewanan ( sifat binatang).
ojo tumindak kaya dene hewan, cotoh:asusila. amoral, tidak beretika dll.
3.   KaRobanan.
ojo ngumbar hawa nafsu yang arti singkatnya jangan memelihara hawa nafsu…nafsu itu harus dikendalikan.
4.   Kasetanan.
ojo tumindak sing duduk samestine yang arti singkatnya jangan bertindak yang tidak semestinya alias gengsi, sombong( ingin seperti Gusti), menyesatkan, berbuat licik dll.
5.   KaTuhanan.
artinya kosong
Gusti Allah iku tan keno kinoyo ngopo nanging ono yang artinya Gusti Allah tidak dapat diceritakan secara apapun tapi toh ada. Gantharwa adalah salah satunya yang diberikan “pusaka” mewarisi warisan dari leluhur Jawa. Pengertian Asli dari jamus kalimosodo diatas adalah isi murni dari pengertian sebenarnya..setiap orang boleh membungkusnya dengan bungkus apapun tetapi jangan sampai kehilangan makna aslinya, karena pengertian diatas adalah pengertian sebenarnya dari jamus kalimusodo.
Continue Reading

Anda Ingin MOKSA, ada caranya…

| 1comments


tulisan oleh Kandjeng Pangeran Karyonagoro,
  1. Sallahu allaihi wasallam,
    Peksi Nala,
    mulih he muliya,
    he; Rengkulu, Saka Guru,
    Sumuruping Kadratullah,
    murub mumbul ing ngawang padhang,
    haningali, hawang-hawang.
  2. Awang dalem tinut dening iman;
    Seg, padang teka padhang,
    lah padhang, adoh katon cedhak,
    katon byar padhang,
    teka padhang,
    Peksi Nala, wengakna lawang suwarga,
    inepen lawang neraka.
  3. Repp…. gregg….hiya iku Peksi Nala;
    Kang misesa liyeping Karsa Mulya,
    tan ana kerasa,
    sampurna ing badane,
    selamet sak parane,
    teka sakajate! Amin, Amin, Amin!
Terjemahan:
  1. Sallahu allaihi wasallama;
    Peksi Nala,
    Kembali…. hei…. kembalilah,
    hei, Rengkulu, Matahari, Saka Guru,
    yang meresap dikodratullah,
    menyala dan membubung diangkasa cemerlang,
    melihati langit dan angkasa.
  2. Wahana-MU diturut oleh iman;
    Seg, teranglah dan terang,
    okh, terang, sekalipun jauh terlihat dekat,
    kelihatan…. pyaar…. cemerlang terang,
    sekonyong-konyong………. terang,
    Peksi Nala, bukalah pintu surga ini,
    tutuplah pintu neraka ini.
  3. Repp…. gregg….yaitu Peksi Nala;
    Yang misesa liyepnya Karsa Yang Mulia,
    tiada terasa apa-apa,
    sempurnalah dibadannya,
    selamatlah kemana perginya,
    sampailah segala niatnya! Amin, Amin, Amin!
Makna bait-bait wirid di atas khusus bagi orang yang akan menuju keakhir kejadian, atau sewaktu kita hendak ajal! Karenanya, dilarang untuk bahan pembicaraan, menjaga kemurnian sastra tersebut, kalau memang diperlukan hanya dua kali di ucapkan untuk “menolong” orang-orang yang akan meninggal dunia, artinya hanya di peruntukkan dua orang pada hari itu bilama (di desa) tempat kita terdapat kematian!
Kalau wirid dibait-bait tersebut hanya dibaca saja tanpa pengertian yang mendalam samalah artinya kalau kita sewaktu meneriakkan slogan-slogan reklame; seyogyanya dihafal serta mengerti satu persatu apa dan dimana, surga, neraka dan akhirat serta bagaimana cara menyelaraskan wahana tersebut. Saya yakin apabila tidak disebar luaskan, maka Ilmu Kamuksan di atas akan lenyap bersama orang-orang Tua-tua yang mempunyai Ilmu itu atau Wirid Ilmu Khaq Sejati yang sempurna, dikarenakan uleh dua faktor:
  • Pertama, orang Tua-tua kita masih merahasiakan,
  • Kedua, dibawa oleh puputnya umur orang-orang tersebut!
    Sungguh-sungguh akan berterimakasih para jiwa-jiwa yang meninggalkan badannya setelah mendapat “wisikan atau bisikan” bunyi ilmu tersebut…, karena peribahasa memberikan tongkat orang yang akan tergelincir, atau memberikan obor orang yang sedang kegelapan!
Cara untuk mengamalkan ilmu tersebut (kepada siapa ilmu itu diberikan), terserah kepada para pembaca, kalau tidak dengan wajar sebagaimana Guru mengajar muridnya, (seyampang orang-orang selagi hidup) setidak-tidaknya “berikan ilmu” ini terhadap orang yang akan menemui ajal dengan cara membisikkan melalui telinga kirinya!
Dengan demikian mulai sekarang, dari pada kita dicekam rasa kecewa dibelakang hari, sebab pada alam Sakarotilma’oti tidak seorangpun akan dapat menolong kita, sekalipun dengan suatu “matram” yang dianggap ampuh!
Untuk lebih memudahkan dan meresapi dalam mengamalkan ilmu tersebut, dengan penjelasan sebagai berikut :
a. “Peksi Nala” artinya : Peksi = burung, sedangkan Nala = hati (dari bahasa Kawi), jadi maksudnya hati laksana burung.
Sedangkan “Ilmu Kamuksan” berasal dari bahasa Kawi yang artinya : mati dengan disertai badannya, wadagnya atau jasadnya, hal-hal mana dulu banyak dilakukan para leluhur kita seperti para Raja-raja, Pandhita-pandhita pada zamanya!”.
“Rengkulu, Srengenge-srengenge (matahari), Soko Guru” artinya:
  • Rengkulu = bantal,
  • Srengenge-srengenge = sifat panas,
  • Soko Guru = tiang rumah yang jumlahnya empat; kiasannya, hati manusia itu sadar-taksadar-selalu bersandar kepada empat nafsu yang selalu panas!”.
“Sumuruping Kodratullah” bahasa ini mempunyai dua makna : “sumuruping” atau dapat diartikan meresap atau telah mengetahui. Bila “sumurup” ini disamakan dengan “surup” akan menjadi “kesurupan” artinya dimasuki; jadi yang tepat adalah “meresapi”, jelasnya semua pekertinya bathin yang berpangkal dari “hati” itu, benar-benar diresapi oleh kodratnya Allah atau hati adalah benar-benar bekerja atas kuasanya Allah! Ingat bahwa semua yang lahir maupun yang bathin adalah kehendak dan af’al-Nya!.
b. Yang terpenting dalam pengamalan Peksi Nala sewaktu “mendobrak” pintu surga dan neraka, selanjutnya surga dan neraka adalah “jodohnya” atau dapat diganti dengan sebutan: senang atau susah, sehat dan sakit adalah satu rasa yang dirasakan oleh hati, di dalam dalil Qur’an diterangkan bahwa azab neraka berpangkal dari tiga pintu, tetapi pintu-pintu yang sebenarnya berjumlah tujuh!
Uraian-uraian selanjutnya sejajar dengan Wirid Hidayat Jati. Inilah hakekatnya dari pada Roh dan Hati Surga dan Neraka:
1. HATI PU’AT : ialah jantung, pintunya di puser, rohnya disebut Rohullah; Surganya dinamakan Jannatul Na’iem, maksudnya… lebih nikmat, buktinya tidur pulas. Nerakanya Jahanam, artinya lebih panas, buktinya lapar dan sakit perut!
2. HATI MUZARAT : YAITU Syulbi, pintunya di zakar, rohnya Roh Qudus, Surganya Jannatul Adnin, maksudnya lebih elok, buktinya keluar mani, Nerakanya Zakinn, artinya lebih dingin, buktinya waktu mandi zinabat, atau kencing!
‎3. HATI TAWAJUH : yaitu perut, pintunya di anus (zubur), rohnya Roh Syirikul’alam, Surganya Jannatul Thawwab, maksudnya puas, buktinya kentut dan berak; Nerakanya disebut Wailun maksudnya lebih sakit, buktinya waktu sakit berak dan berak darah!
4. HATI SALIM : yaitu ginjal, pintunya di hidung, nafsunya Mutmainah; warnanya putih, kerjanya mencium, membau, rohnya Roh Ruhkani; Surganya Jannatul Firdaus, artinya lebih lama, buktinya keluar masuhnya nafas; Nerakanya disebut Asfala’safilien, maksudnya sesak nafas, tandanya sakit mengi (sesak nafas)
5. HATI SANUBARI : yaitu limpa, pintunya di mata, nafsunya Sufiyah, warnanya kuning, pekernya melihat, rohnya Roh Rabani; Surganya Jannatul Syamsi, artinya lebih terang, buktinya mengetahui segala yang ada; Nerakanya Syahhir, artinya gelap…, nyatanya sakit lamur atau buta!
6. HATI MAKNAWI : yaitu empedu, pintunya di telinga, nafsunya Amarah, warnanya merah, rohnya Roh …. (?); Surganya Jannatul Ma’oti, artinya lebih elok, buktinya perpaduannya suara; Nerakanya Laliem, maksudnya pepet, nyatanya sakit telinga atau tuli!
7. HATI SAWADI: yaitu usus, pintunya mulut, nafsunya Aluamah, rupanya hitam, pekertinga bicara, rohnya Roh Ilafi, Surganya Jannatul Syukhri, artinya lebih suka, nyatanya tertawa; Nerakanya Sukhra, maksudnya risi, nyatanya waktu menangis!
Ini suatu budaya yg hilang, apapun itu kita sebagai bangsa yg besar tetap harus menghormati peninggalan leluhur, sabar ini musti artikan ke dalam bahasa Indonesia.
Makna sebenarnya dari Ilmu Kamuksan diatas terletak bulat-bulat pada kesempurnaan badaniah yang mengharuskan kesehatan disamping latihan bathin yang khusus bagi kebatinan! Apakah hanya dengan membaca wirid Ilmu Kamuksan tersebut akan otomatis begitu saja setelah ajal kita sampai, kemudian badan dan jiwa sempurna dan lenyap? Syukurlah kalau wirid diatas tanpa dipelajari dan tanpa syarat-syarat apapun dapat menyempurnakan pati dan hidup kita! Kalau jawabannya “belum” percumalah, walaupun bagaimana keampuhan wirid-wirid tersebut tetap tidak akan dapat menolong! Sesuai falsafah Jawa, asal kita dapat melatih Semedi pada jam-jam tertentu dengan melatih juga “mengembalikan” kondisi aslinya indriya-indriya tersebut misalkan : kembalikan suara, artinya melatih tidak mendengar sesuatu, kembalikan bau artinya hidung berhenti dulu tidak membau dan sebagainya; bukan berarti seperti zaman yang sudah-sudah kita diharuskan mengembalikan “suara kepada yang punya suara”, dalam pemikiran timbul gugatan “Siapa yang punya suara?”.
Menurut Wirid Hidayat Jati “Iradatnya Dat” dalan bahasa Indosnesia-nya kurang lebih sebagai berikut: karena sebenar-benarnya yang menjadi larangan atau pantangan dari para ulah Ilmu Kasampurnan itu hanya terletak pada “nafsu”. Kalau dapat mengikis (mengurangi) biasanya timbul hati yang awas dan ingat (awas lan emut, Jawa).
Karena benar-benar bahwa kita hidup melulu pengemban rasa dengan keterangan-keterangan Hidayat Jati tersebut benar dan nyata bahwa surga dan neraka yang berpintu tujuh dari poko asalnya (salurannya) berpintu tiga bukan di “sana-sana” tetapi… disilah, dibadan kita yang keselurahannya minta perhatian khusus, agar tidak nyeleweng yang dapat menimbulkan rasa-rasa yang kita inginkan! Sesungguhnya memang Peksi Nala-lah yang dapat mempengaruhi, misesa, memerintah atau mengendalikan semua hasrat-hasrat lahir bathin; karenanya benar-benar sukses atau tercapai segala tujuan, hanya terletah pada hati.
Harap diingat bahwa wirid tersebut sekali lagi hanya dapat “MERINGANKAN” jalannya Roh waktu meninggalkan badan sewaktu ajal, agar tidak terperosok ke alam penasaran, lebih-lebih kalau mulai sekarang kita amalkan dan hayati sesuai petunjuk Guru masing-masing, insya’allah ajal kita menuju sempurna, kembali ke asal awalnya “DARI TIADA RASA KE TIADA RASA”! Amin, Amin, Amin.
lha….ini ada cara moksa hilang sama sekali badan kasarnya, kalau kandjeng tulis bisa pada kemingsun semua…..secret….kalau ingin belajar MKG benar dgn teratur baru kita infokan, nanti ndak kegeden empyak kurang cagak.
Kasampurnan Ala Serat Pangracutan
Serat Kekiyasanning Pangracutan adalah salah satu buah karya sastra Sultan Agung Raja Mataram antara (1613-1645). Serat Kekiyasaning Pangracutan ini juga menjadi sumber penulisan Serat Wirid Hidayat Jati yan…g dikarang oleh R.Ng Ronggowarsito karena ada beberapa bab yang terdapat pada Serat kekiyasanning Pangracutan terdapat pula pada Serat Wirid Hidayat Jati. Pada manuskrip huruf Jawa Serat kekiyasanning Pangracutan tersebut telah ditulis kembali pada tahun shaka 1857 / 1935 masehi. Disyahkan oleh pujangga di Surakarta RONG no-GO ma-WAR ni SI ra TO = Ronggowarsito atau R. Ng. Rongowarsito.
SARASEHAN ILMU KESAMPURNAAN
Ini adalah keterangan Serat tentang Pangracutan yang telah disusun Baginda Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma Panatagama di Mataram atas perkenan beliau membicarakan dan temu nalar dalam hal ilmu yang sangat rahasi…a, untuk mendapatkan kepastian dan kejelasan dengan harapan dengan para ahli ilmu kasampurnaan.
Adapun mereka yang diundang dalam temu nalar itu oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma Panatagama adalah:
I. Panembahan Purbaya
II. Panembahan Juminah
III. Panembahan Ratu Pekik di Surabaya
IV. Panembahan Juru Kithing
V. Pangeran Kadilangu
VI. Pangeran Kudus
VII. Pangeran Tembayat
VIII. Pangeran Kajuran
IX. Pangeran Wangga
X. Kyai Pengulu Ahmad Kategan
Berbagai kejadian pada jenasah
Adapun yang menjadi pembicaraan, beliau menanyakan apa yang telah terjadi setelah manusia itu meninggal dunia, ternyata mengalami bermacam-macam kejadian pada jenazahnya.
a. Ada yang langsung membusuk
b. Ada jenasah yang masih utuh
c. Ada yang hilang bentuk jenasahnya ? tidak berbentuk lagi
d. Ada yang meleleh menjadi cair
e. Ada yang menjadi mustika ( permata )
f. Istimewanya ada yang menjadi hantu
g. Bahkan ada pula yang menjelma menjadi hewan
Masih banyak pula kejadian lainnya, bagaimana itu bisa terjadi, apa penyebabnya. Ini disebabkan adanya kelainan atau salah kejadian (tdk wajar), makanya pada waktu hidup berbuat dosa, setelah menjadi mayatpun akan mengalami sesuatu, masuk kedalam alam penasaran. Karena pada saat proses sakaratul maut hatinya menjadi ragu, takut, kurang kuat tekadnya, tidak dapat memusatkan pikiran hanya pada satu jalan yaitu menghadapi maut, seperti yang akan diutarakan dibawah ini :
  1. Pada waktu masih hidup, siapapun yang senang, tenggelam dalam kekayaan, kemewahan, tidak mengenal tapa brata, setelah mencapai akhir hayatnya, maka jenasahnya akan menjadi busuk dan kemudian menjadi tanah liat, sukmanya melayang gentayangan, diumpamakan bagai rama-rama tanpa mata. Sebaliknya bila pada saat hidupnya gemar menyucikan diri lahir batin, hal itu sudah termasuk lampah, maka kejadiannya tidak demikian.
  2. Pada waktu masih hidup bagi mereka yang kuat puasa tetapi tidak mengenal batas waktunya, bila telah tiba saat kematiannya, maka mayatnya akan teronggok menjadi batu dan membuat tanah pekuburannya menjadi sangar, adapun rohnya akan menjadi Danyang Semorobumi. Walaupun begitu, bila pada masa hidupnya mempunyai sifat nrima, sabar, artinya makan, tidur, tidak bermewah-mewah, cukup seadanya dengan perasaan tulus lahir batin kemungkinanya tidak akan seperti diatas kejadian di akhir hidupnya.
  3. Pada waktu masih hidup selalu sabar dan tawakal, dapat menahan hawa nafsu, berani dalam lampah dan menjalani mati didalam hidupnya, misal mengharapkan agar jangan berbudi rendah, rona muka manis, tutur kata sopan, sabar dan sederhana, se…muanya itu jangan sampai berlebihan dan haruslah tahu tempatnya situasi dan kondisi, yang demikian itu maka keadaan jenasahnya akan mendapat kemulyaan sempurna dalam keadaan yang hakiki, kembali menyatu dengan Dzat Pangeran Yang Maha Agung, yang dapat menghukum, dapat menciptakan apa saja, ada bila menghendaki, datang menururt kemauannya.
  4. Siapapun yang melantur dalam mencegah syahwat atau hubungan seks, tanpa mengenal waktu, pada saat kematian kelak jenasahnya akan lenyap melayang, masuk kedalam alamnya jin setan dan roh halus lainnya, sukmanya sering menjelma dan menjadi… semacam benalu atau menempel pada orang,seperti genderuwo dan sebagainya yang masih senang menggangu wanita, kalau berada dipohon yang besar, kalau pohon dipotong maka benalu tadi akan ikut mati. Walaupun begitu, bila pada masa masih hidup disertakan sifat jujur, tidak berbuat mesum, tidak berzinah, bermain seks dengan wanita yang bukan haknya, semua itu bila tidak dilanggar tidak akan begitu kejadiannya.
Berbagai jenis Kematian
  1. Mati Kisas adalah suatu jenis kematian karena hukuman mati. Akibat dari perbuatan orang itu karena membunuh, kemudian dijatuhi hukuman karena keputusan pengadilan atas wewenang raja.
  2. Mati Kias adalah jenis kem…atian yang diakibatkan oleh suatu perbuatan, misalnya menahan nafas atau mati karena melahirkan.
  3. Mati Syahid adalah jenis kematian karena gugur dalam perang, dibajak, dirampok dan disamun.
  4. Mati Salih adalah suatu jenis kematian karena kelaparan, bunuh diri, karena mendapat aib atau sangat bersedih.
  5. Mati Tiwas adalah suatu jenis kematian karena tenggelam, tersambar petir, tertimpa pohon, jatuh karena memanjat pohon, dan sebagainya.
  6. Mati Apes adalah suatu jenis kematian karena ambah-ambahan, epidemi, santet, tenung dari orang lain, …yang demikian itu benar-benar tidak dapat sampai pada “Kematian yang Sempurna” atau keadaan Jati bahkan dekat sekali dengan alam penasaran.
Berkatalah beliau : “Sebab-sebab kematian tadi yang mengakibatkan kejadiannya lalu apakah tidak ada perbedaannya antara yang berilmu dengan yang bodoh ? Andaikan yang menerima akibat dari kematian seornag pakarnya ilmu mistik, mengapa tidak… dapat mencabut seketika itu juga ?”
Dijawab oleh yang menghadap : “Yang begitu itu mungkin disebabkan karena terkejut menghadapi hal-hal yang tiba-tiba. Maka tidak teringat lagi dengan ilmu yang diyakininya dalam batin yang dirasakan hanyalah penderitaan dan rasa sakit saja. Andaikan dia mengingat keyakinan ilmunya mungkin akan kacau didalam melaksanakannya tetapi kalau selalu ingat petunjuk-petunjuk dari gurunya maka kemungkinan besar dapat mencabut seketika itu juga.
Setelah mendengar jawaban itu beliau merasa masih kurang puas menurut pendaat beliau bahwa sebelum seseorang terkena bencana apakah tidak ada suatu firasat dalam batin dan pikiran, kok tidak terasa kalau hanya begitu saja beliau kurang sependapat oleh karenanya beliau mengharapkan untuk dimusyawarahkan sampai tuntas dan mendapatkan suatu pendapat yang lebih masuk akal.
Kyai Ahmad Katengan menghaturkan sembah: “Sabda paduka adalah benar, karena sebenarnya semua itu masih belum tentu , hanyalah Kangjeng Susuhunan Kalijogo sendiri yang dapat melaksanakan ngracut
Sebab-sebab inilah yang membuat dan mengakibatk…an kejadian, seandainya dapat meracut seketika dalam keadaan terkejut atau tiba-tiba, teringat dengan apa yang diyakininya akan ilmunya maka akan dapat meracut seketika.
Wedaran Angracut Jasad.
Pangracutan Jasad yang dipergunakan oleh Susuhunan Kalijogo dan Syekh Siti Jenar adalah sama, karena hanya mereka yang dapat meracut seketika dan tiba-tiba, seperti dibawah ini;
“Badaningsun jasmani wus suci, ingsu…n gawa marang kaanan(kahanan) jati tanpa jalaran pati, bisa mulya sampurna waluya urip salawase, ana ing ‘alam donya ingsun urip tumekane ‘alam kaanan(kahanan) jati ingsun urip, saka kodrat iradatingsun, dadi sakciptaningsun, ana sasedyaningsun, teka sakarsaningsun.”
“Badan jasmaniku telah suci, kubawa dalam keadaan nyata (hidup yang sesungguhnya), tidak diakibatkan kematian, dapat mulai sempurna hidup abadi selamanya, di dunia aku hidup, sampai dialam nyata ( hidup yang sesungguhnya ,akherat=Akhiring Rat) aku juga hidup, dari kodrat iradatku, terjadi apa yang kuciptakan, apa yang kuinginkan ada dan datang apa yang kukehendaki.”
Wedaran Menghacurkan Jasad.
Adapun pesan beliau Kangjeng Susuhunan di Kalijogo sebagai berikut: “Siapapun yang menginginkan dapat menghancurkan tubuh seketika atau terjadinya mukjijat seperti para Nabi, mendatangkan keramat seperti para W…ali, mendatangkan ma’unah seperti para Mukmin Khas, dengan cara menjalani tapa brata seperti pesan dari Kangjeng Susuhunan di Ampel Denta
  1. Menahan hawa nafsu, selama seribu hari siang dan malam sekalian
  2. Menahan Syahwat (Seks), selama seratus hari siang dan malam
  3. Tidak berbicara, artinya membisu dalam empatpuluh hari siang dan malam
  4. Puasa padam api ( pati geni ) tujuh hari tujuh malam
  5. Puasa padam api ( pati geni ) tujuh hari tujuh malam
  6. Jaga, lamanya tiga hari tiga malam
  7. Mati raga, tidak bergerak-gerak lamanya sehari semalam
Adapun pembagian waktunya dalam lampah seribu hari seribu malam itu begini caranya:
  1. Menahan hawa nafsu, bila telah mendapat 900 hari, lalu diteruskan dengan;
  2. Menahan syahwat selama 40 hari lalu dirangkap juga dengan;
  3. Membisu tanpa berpuasa selama 40 hari. Adapun membisu bila sampai pada 33 hari dilanjutkan dengan;
  4. Pati geni selama 7 hari tujuh malam, setelah mendapat 4 hari 4 malam dilanjutkan dengan;
  5. Menahan hawa nafsu, bila telah mendapat 900 hari, lalu diteruskan dengan;
  6. Menahan syahwat selama 40 hari lalu dirangkap juga dengan;
  7. Membisu tanpa berpuasa selama 40 hari. Adapun membisu bila sampai pada 33 hari dilanjutkan dengan;
  8. Pati geni selama 7 hari tujuh malam, setelah mendapat 4 hari 4 malam.
Adapun caranya untuk Pati raga adalah Tangan bersidakep kaki membujur lurus dan menutup 9 lubang di tubuh, tidak bergerak-gerak, menahan berdehem, batuk, tidak meludah, tidak berak, tidak kencing selama sehari semalam. Yang bergerak hanya kedipan mata, tarikan nafas, anafas, tanafas, nufus, artinya tinggal keluar masuknya nafas yang tenang jangan sampai tersengal sengal campur baur.

Kyai Penghulu Ahmad Kategan menjawab: “Adapun perlunya pati raga itu, sebagai sarana melatih kenyataan, supaya dapat mengetahui pisah dan kumpulnya Kawula Gusti, bagi para pakar ilmu kebatinan pada jaman kuno dulu dinamakan dapat Meraga Sukma, artinya berbadan sukma, oleh karenanya dapat mendakatkan yang jauh, apa yang dicipta jadi, mengadakan apapun yang dikehendaki, mendatangkan sekehendaknya, semuanya itu dapat dijadikan suatu sarana pada awal akhir. Bila dipergunakan ketika masih hidup di Dunia ada manfaatnya, begitu juga dipergunakan kelak bila telah sampai pada sakaratul maut.

Urutan dalam Kematian dan Apa yang harus Dilakukan
Walaupun hanya panuwunan, yang dilewati juga alam kematian, kalau sampai lengah juga berakhir mati atau mati benar-benar. Adapun tata caranya begini : Sedakep dengan kaki lurus berdempet, menutup kesemua lubang, jari-jari kedua belah tangan saling bersilang, ibu jari bertemu keduanya, lalu ditumpangkan di dada. Dalam sikap tidur itu kedua belah kaki diluruskan, ibu jari kaki saling bertem…u, kontol ditarik keatas dan zakarnya sekalian, jangan sampai terhimpit paha. Pandangan memandang lurus dari ujung hidung lurus ke dada hingga tampak lurus melalui pusar hingga memandang ujung jari . Setelah semuanya dapat terlihat lurus maka memulai menarik nafas tadi. Dari kiri tariklah kekanan dan dari arah kanan tariklah kekiri. Kumpulnya menjadi satu berada di pusar beberapa saat lamanya, maka tariklah keatas pelan-pelan jangan tergesa-gesa. Kumpulkan nafas, tanafas, anafas, nufus diciptakan menjadi perkara gaib. Lalu memejamkan mata dengan perlahan-lahan, mengatubkan bibir dengan rapat, gigi dengan gigi bertemu. Pada saat itulah menheningkan cipta, menyerah dengan segenap perasaan yang telah menyatu, pasrah kepada Pangeran kita pribadi. Setelah itu, lalu memantrapkan adanya Dzat, seperti dibawah ini:
Anjumenengkan Dzat:
“Ingsun Dzating Gusti Kang Asifat Esa, anglimputi ing kawulaningsun, tunggal dadi sakahanan, sampurna saka ing kudratingsun.”
“Aku mengumpulkan Kawula Gusti yang bersifat Esa, meliputi dalam kawulaku, satu dalam satu keadaan dari kodrat-Ku.”
Mengatur Istana:
“Ingsun Dzat Kang Maha Luhur Kang Jumeneng Ratu Agung, kang amurba amisesa kang kawasa, andadekake ing karatoningsun kanga gung kang amaha mulya. Ingsun wengku sampurna sakapraboningsun, sangkep, saisen-isening karatoningsu…n, pepak sabalaningsun, kabeh ora ana kang kekurangan, byar gumelar dadi saciptaningsun kabeh saka ing kudratingsun.”
“Aku Dzat yang Maha Luhur, yang menjadi Raja Agung. Yang menguasai segala sesuatu, yang kuasa menjadikan istana-Ku, yang Agung Maha Mulia, Ku Kuasai dengan sempurna dari kebesaran-Ku, lengkap dengan segala isinya Keraton-Ku, lengkap dengan bala tentara-Ku, tidak ada kekurangan, terbentang jadilah semua ciptaanKu, ada segala yang Ku-inginkan, karena kodrat-Ku.”

Meracut Jisim:
“Jisimingsun kang kari ana ing alam dunya, yen wis ana jaman karamat kang amaha mulya, wulu kulit daging getih balung sungsum sapanunggalane kabeh, asale saka ing cahya muliha maring cahya, sampurna bali Ingsun maneh, saka ing kodratingsun.”
“Aku meracut jisim-Ku yang masih tertinggal di alam dunia, bila telah tiba di zaman keramatullah yang Maha Mulia, bulu, kulit,kuku, darah, daging, tulang, sungsum keseluruhannya, yang berasal dari cahaya, yang berasal dari bumi, api, angin, bayu kalau sudah kembali kepada anasir-Ku sendiri-sendiri, lalu akau racut menjadi atu dengan sempurna kembali kepada-Ku, karena kodrat-Ku.”

Menarik Anak:
“Aku menarik anak-Ku yang sudak pulang kerahmatullah, kaki, nini, ayah, ibu, anak dan isteri, semua darah-Ku yang memang salah tempatnya, semuanya Aku tarik menjadi satu dengan keadaan-Ku, mulia sempurna karena kodrat-Ku.”
Mengukut keadaan Dunia:
“Aku mengukut keadaan dunia, Aku jadikan satu dengan keadaanKu, karena kodrat-Ku.”

Mendo’akan Keturunan:
“Keturunanku yang masih tertinggal di alam dunia, semuanya semoga mendapatkan kebahagiaan, kaya dan terhormat, jangan sampai ada yang kekurangan, dari kodrat-Ku.”
Mengamalkan Aji Pengasihan:
“Aku mengamalkan Aji pengasih, kepada semua mahkluk-Ku, besar, kecil, tua, muda, laki-laki, perempuan, yang mendengar dan melihat semoga welas asih padaKu, karena kodrat-Ku.”
Menerapkan Daya Kesaktian :
“Aku menerapkan Daya Kesaktian, kepada semua mahkluk-Ku, barang siapa yang tidak mengindahkan Aku, akan terkena akibat dari kesaktian-Ku, karena kodrat-Ku.”
Setelah begitu, maras menutup di hati, menimbulakan rasa sesak nafas, oleh karenanya harus selalu ingat dan sentosa, jangan sampai kacau balau pernapasannya, tanafas, anpas, nuppus tadi, karena nafas itu ikatan jisim, berada di hati suweddha, artinya menjembatani fikiran yang suci, keadaanya jadilah angin yang keluar saja. Tannapas itu talinya hati siri, letaknya di pusar, keadaannya menjadi hawa yang berada dalam tubuh saja. Anpas itu adalah talinya Roh, berada di dalam jantung, keadaannya hanyalah menjadi angin di dalam saja. Nupus itu tali Rahsa, artinya berkaitan dengan Atma, berada di dalam hati pusat yang putih, berada di pembuluh jantung, keadaannya menjadi angin yang kekiri kekanan, dari ulah perbuatannya itu dapat meliputi segenap organ tubuh dan rokhani.
Bila sudah begitu roh larut lalu terasalah kram seluruh organ tubuh, mengakibatkan mata menjadi kabur, telinga menjadi lemas, hidungpun lemah lubang hidung menciut, lidah mengerut, akhirnya cahaya suram, suara hilang, yang tinggal hanyalah hidupnya fikir saja, karena sudah dikumpulkan ururtan syare’at, hakekat, tarekat, dan makrifat.
  1. Syare’at itu lampahnya badan, berada di mulut
  2. Hakekat itu lampahnya nyawa, berada di telinga
  3. Tarekat itu lampahnya hari, berda di hidung
  4. Makrifat itu lampahnya rahsa, berada di mata
Adapun yang ditarik terlebih dahulu adalah penglihatannya mata, diumpamakan kaburnya kaca Wirangi, atau asalnya air Zam-zam Lalu rasanya mulut, diumpamakan rusaknya jembatan Siratalmustakim, atau Ka’batullah.
Lalu penciumannya hidung, yang diumpamakan gugurnya gunung Tursina atau robohnya gunung Ikrap Lalu pendengarannya telinga, diumpamakan hancurnya sajaratulmuntaha, atau melorotnya Hajaratu’l Aswad. Kemudian tinggallah merasakan nikmat pada seluruh bagian tubuh, melebihi kenikmatan ketika sedang bersenggama pada saat sedang mengeluarkan rahsa, pada saat itulah batinlah suatu tekad yang kuat, seperti diibaratkan huruf Alif yang berjabar (berfathah), diejer (kasroh), da diepes (berdlomah) bunyinya menjadi: A. I. U
  • A artinya : Aku
  • I artinya : Ini
  • U artinya : Hidup (urip)
Setelah itu menciptakan kerinduan kepada Dzat, bagaikan merindukan kepada Dyah Ayu, supaya jangan sampai igat kepada anak cucu yang ditinggalkan. Karena akan keliru ciptanya yang akhirnya mengakibatkan melesetnya dari tujuan yang sebenarnya…. Semua itu tinggal menimbang pertimbangannya ciptanya pribadi, didalam tiga pangkat :
a. Yang pertama, bila benar-benar sentausa, akan mendapatkan anugerah dari Pangeran, dapat hidup diawal akhir, langgeng tidak mengalami perubahan.
b. Yang kedua, berhubung dicapai waluya sejati, padahal tidak mengalami menderita sakit, atau tidak mempuyai dosa, maka dapat melakukan berbadan sukma.
c. Yang ketiga, bila didalam ciptanya masih ada rasa ragu-ragu, bimbing, pada akhirnya hayatnya pasti akan menemukan tiwas ke tempat yang salah.
Ini kawruh manunggaling kawula gusti, ilmu luhur…kawruh yg luar biasa…tanpa tanding…ilmunya raja2 jawa..tetap hrs di mulai dr dasar..ini yg ku keluarkan sebatas wacana, ora ono ilmu tanpa laku..
Continue Reading

TANDA-TANDA PENCAPAIAN NENG, NING, NUNG, NANG

Wednesday, April 10, 2013 | 0 comments


 
TINGKAT 1 (Neng; sembah raga)

Jumeneng; menjalankan “syariat”. Namun makna syariat di sini mempunyai dimensi luas. Yakni dimensi “vertikal” individual kepada Tuhan, maupun dimensi sosial “horisontal” kepada sesama makhluk. Neng, pada hakekatnya sebatas melatih dan membiasakan diri melakukan perbuatan yang baik dan bermanfaat untuk diri pribadi, dan lebih utama untuk sesama tanpa pilih kasih. Misalnya seseorang melaksanakan sembahyang dan manembah kepada Tuhan dengan cara sebanyak nafasnya, guna membangun sikap eling dan waspadha. Neng adalah tingkat dasar, barulah setara “sembah raga” misalnya menyucikan diri dengan air, mencuci badan dengan cara mandi, wudlu, gosok gigi, upacara jamasan, tradisi siraman dsb. Termasuk mencuci pakaian dan tempat tinggal. Orang dalam tingkat “neng”, menyebut dan “menyaksikan” Tuhan barulah melalui pernyataan dan ucapan mulut saja. Kebaikan masih dalam rangka MELATIH diri mengendalikan hawa nafsu negatif, dengan bermacam cara misalnya puasa, semadi, bertapa, mengulang-ulang menyebut nama Tuhan dll. Melatih diri mengendalikan hawa nafsu agar bersifat positif dengan cara misalnya sedekah, amal jariah, zakat, gotong royong, peduli kasih, kepedulian sosial dll. Melatih diri untuk menghargai dan mengormati leluhur, dengan cara ziarah kubur, pergi haji, mengunjungi situs-situs sejarah, belajar dan memahami sejarah, dst. Melatih diri menghargai dan menjaga alam semesta sebagai anugrah Tuhan, dengan cara upacara-upacara ritual, ruwatan bumi, larung sesaji, dst. Tahapan ini dilakukan oleh raga kita, namun BELUM TENTU melibatkan HATI dan BATIN kita secara benar dan tepat.


Kehidupan sehari-harinya dalam rangka latihan menggapai tataran lebih tinggi, artinya harus berbuat apa saja yg bukan perbuatan melawan rumus Tuhan. Tidak hanya berteori, kata kitab, kata buku, menurut pasal, menurut ayat dst. Namun berusaha dimanifestasikan dalam perilaku dan perbuatan kehidupan sehari-hari. Perbuatannya mencerminkan perilaku sipat zat (makhluk) yang selaras dengan sifat hakekat (Tuhan). Tanda pencapaiannya tampak pada SOLAH. Solah artinya perilaku atau perbuatan jasadiah yang tampak oleh mata misalnya; tidak mencelakai orang lain, perilaku dan tutur kata menentramkan, sopan dan santun, wajah ramah, ngadi busana atau cara berpakaian yang pantas dan luwes menghargai badan. Akan tetapi perilaku tersebut belum tentu dilakukan secara sinkron dengan BAWA-nya. BAWA yakni “perilaku” batiniah yang tidak tampak oleh mata secara visual.


Titik Lemah

Pada tataran awal ini meskipun seseorang seolah-olah terkesan baik namun belum menjamin pencapaian tataran spiritual yang memadai, dan belum tentu diberkahi Tuhan. Sebab seseorang melakukan kebaikan terkadang masih diselimuti rahsaning karep atau nafsu negatif; rasa ingin diakui, mendapat nama baik atau pujian. Bahkan seseorang melakukan suatu kebaikan agar kepentingan pribadinya dapat terwujud. Maka akibat yang sering timbul biasanya muncul rasa kecewa, tersinggung, marah, bila tidak diakui dan tidak mendapat pujian. Kebaikan seperti ini boleh jadi bermanfaat dan mungkin baik di mata orang lain. Akan tetapi dapat diumpamakan belum mendapat tempat di “hati” Tuhan. Kredit point nya masih nihil. Banyak orang merasa sudah berbuat baik, beramal, sodaqah, suka menolong, membantu sesama, rajin doa, sembahyang. Tetapi sering dirundung kesialan, kesulitan, tertimpa kesedihan, segala urusannya mengalami kebuntuan dan kegagalan. Lantas dengan segera menyimpulkan bahwa musibah atau bencana ini sebagai cobaan (bagi orang-orang beriman).

Pada tataran ini, seseorang masih rentan dikuasai nafsu ke-aku-an (api/nar/iblis). Diri sendiri dianggap tahu segala, merasa suci dan harus dihormati. Siapa yang berbeda pendapat dianggap sesat dan kafir. Konsekuensinya; bila memperdebatkan (kulit luarnya) ia menganggap diri paling benar dan suci, lantas muncul sikap golek benere dewe, golek menange dewe, golek butuhe dewe. Ini sebagai ciri seseorang yang belum sampai pada intisari ajaran yang dicarinya. Durung becus keselak besus !


TINGKAT 2 (Ning; sembah kalbu)

Wening atau hening; ibarat mati sajroning urip; kematian di dalam hidup. Tataran ini sepadan dengan tarekat. Menggambarkan keadaan hati yang selalu bersih dan batinnya selalu eling lan waspadha. Eling adalah sadar dan memahami akan sangkan paraning dumadi (asal usul dan tujuan manusia) yang digambarkan sebagai “kakangne mbarep adine wuragil” (lihat dalam posting; Saloka Jati). Waspadha terhadap apa saja yang dapat menjadi penghalang dalam upaya “menemukan” Tuhan (wushul). Yakni penghalang proses penyelarasan kehidupan sehari-hari (sifat zat) dengan sifat hakekat (Tuhan). Ning dicapai setelah hati dapat dilibatkan dalam menjalankan ibadah tingkat awal atau Neng; yakni hati yg ikhlas dan tulus, hati yang sudah tunduk dan patuh kepada sukma sejati yang suci dari semua nafsu negatif. Hati semacam ini tersambung dengan kesadaran batin maupun akal budi bahwa amal perbuatan bukan semata-mata mengaharap-harap upah (pahala) dan takut ancaman (neraka). Melainkan kesadaran memenuhi kodrat Tuhan, serta menjaga keharmonisan serta sinergi aura magis antara jagad kecil (diri pribadi) dan jagad besar (alam semesta). Tataran ini dicapai melalui empat macam bertapa; tapa ngeli, tapa geniara, tapa banyuara, tapa mendhem atau ngluwat.

1.      Tapa ngeli; harmonisasi vertikal dan horisontal. Yakni berserah diri dan menselaraskan dengan kehendak Tuhan. Lalu mensinergikan jagad kecil (manusia) dengan jagad besar (alam semesta).

2.      Tapa geniara; tidak terbakar oleh api (nar) atau nafsu negatif yakni ke-aku-an. Karena ke-aku-an itu tidak lain hakekat iblis dalam hati.

3.      Tapa banyuara; mampu menyaring tutur kata orang lain, mampu mendiagnosis suatu masalah, dan tidak mudah terprovokasi orang lain. Tidak bersikap reaksioner (ora kagetan), tidak berwatak mudah terheran-heran (ora gumunan).

4.      Tapa mendhem; tidak membangga-banggakan kebaikan, jasa dan amalnya sendiri. Terhadap sesama selalu rendah hati, tidak sombong dan takabur. Sadar bahwa manusia derajatnya sama di hadapan Tuhan tidak tergantung suku, ras, golongan, ajaran, bangsa maupun negaranya. Tapa mendhem juga berarti selalu mengubur semua amal kebaikannya dari ingatannya sendiri. Dengan demikian seseorang tidak suka membangkit-bangkit jasa baiknya. Kalimat pepatah Jawa sbb: tulislah kebaikan orang lain kepada Anda di atas batu, dan tulislah kebaikan Anda pada orang lain di atas tanah agar mudah terhapus dari ingatan.


Titik Lemah

Jangan lekas puas dulu bila merasa sudah sukses menjalankan tataran ini. Sebab pencapaian tataran kedua ini semakin banyak ranjau dan lobang kelemahan yang kapan saja siap memakan korban apabila kita lengah. Penekanan di sini adalah pentingnya sikap eling dan waspadha. Sebab kelemahan manusia adalah lengah, lalai, terlena, terbuai, merasa lekas puas diri. Tataran kedua ini melibatkan hati dalam melaksanakan segala kebaikan dalam perbuatan baik sehari-hari. Yakni hati harus tulus dan ikhlas. Namun..ketulusan dan keikhlasan ini seringkali masih menjadi jargon, karena mudah diucapkan oleh siapapun, sementara pelaksanaannya justru keteteran. Dalam falsafah hidup Kejawen, setiap saat orang harus selalu belajar ikhlas dan tulus setiap saat sepanjang usia. Belajar ketulusan merupakan mata pelajaran yang tak pernah usai sepanjang masa. Karena keberhasilan Anda untuk tulus ikhlas dalam tiap-tiap kasus belum tentu berhasil sama kadarnya. Keikhlasan dipengaruhi oleh pihak yang terlibat, situasi dan kondisi obyektifnya, atau situasi dan kondisi subyek mental kita saat itu.


TINGKAT 3 (Nung; sembah cipta)

Kesinungan ; yakni dipercaya Tuhan untuk mendapatkan anugrah tertentu. Orang yang telah mencapai tataran Kesinungan dialah yang mendapatkan “hadiah” atas amal kebaikan yang ia lakukan. Ini mensyaratkan amal kebaikan yang memenuhi syarat, yakni kekompakan serta sinkronisasi lahir dan batin dalam mewujudkan segala niat baik menjadi tindakan konkrit. Yakni tindakan konkrit dalam segala hal yang baik misalnya membantu & menolong sesama. Syarat utamanya; harus dilakukan terus-menerus hingga menyatu dalam prinsip hidup, dan tanpa terasa lagi menjadi kebiasaan sehari-hari.


Pencapaian tataran ini sama halnya laku hakekat. Laku hakekat adalah meliputi keadaan hati dan batin; sabar, tawakal, tulus, ikhlas, pembicaraannya menjadi kesejatian (kebenaran), yang sejati menjadi kosong, hilang lenyap menjadi ada. Tataran ini ditandai oleh pencapaian kemuliaan yang sejati, seseorang mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan di dunia dan kelak setelah ajal. Pada tahap ini manusia sudah mengenal akan jati dirinya dan mengenal lebih jauh sejatinya Tuhan. Manusia yang telah lebih jauh memahami Tuhan tidak akan berfikir sempit, kerdil, sombong, picik dan fanatik. Tidak munafik dan menyekutukan Tuhan. Ia justru bersikap toleran, tenggang rasa, hormat menghormati keyakinan orang lain. Sikap ini tumbuh karena kesadaran spiritual bahwa ilmu sejati, yang nyata-nyata bersumber pada Yang Maha Tunggal, hakekatnya adalah sama. Cara atau jalan mana yang ditempuh adalah persoalan teknis. Banyaknya jalan atau cara menemukan Tuhan merupakan bukti bahwa Tuhan itu Mahaluas tiada batasnya. Ibarat sungai yang ada di dunia ini jumlahnya sangat banyak dan beragam bentuknya; ada yang dangkal, ada yang dalam, berkelok, pendek dan singkat, bahkan ada yang lebar dan berputar-putar. Toh semuanya akan bermuara kepada Yang Tunggal yakni “samudra luas”.


NAH, orang seperti ini akan “menuai” amal kebaikannya. Berkat rumus Tuhan di mana kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Kebaikan yg anda berikan, “buahnya” akan anda terima pula. Namun demikian kebaikan yang anda terima belum tentu datang dari orang yang sama, malah biasanya dari pihak lainnya. Kebaikan yang anda peroleh itu merupakan “buah” dari “pohon kebaikan” yang pernah anda tanam sebelumnya. Selebihnya, kebaikan yang anda lakukan akan menjadi pagar gaib yang selalu menyelimuti diri anda. Singkat kata, pencapaian Nung, ditandai dengan diperolehnya kemudahan dan hikmah yang baik dalam segala urusan. Pagar gaib itu akan membuat kita tidak dapat dicelakai orang lain. Sebaliknya selalu mendapatkan keberuntungan. Dalam terminologi Jawa inilah yang disebut sebagai “ngelmu beja”.


Untuk meraih tataran ini, terlebih dahulu kita harus mengenal jati diri secara benar. Dalam diri manusia setidaknya terdapat 7 lapis bumi yang harus diketahui manusia. Jika tidak diketahui maka menjadi manusia cacad dan akan gagal mencapai tataran ini. Bumi 7 lapis tersebut adalah ; retna, kalbu, jantung, budi, jinem, suksma, dan ketujuhnya yakni bumi rahmat.

1. Bumi Retna; jasad dan dada manusia sesungguhnya istana atau gedung mulia.

2. Bumi Kalbu; artinya istana iman sejati.

3. Bumi Jantung; merupakan istana semua ilmu.

4. Bumi budi; artinya istana puji dan zikir.

5. Bumi Jinem; istananya kasih sayang sejati.

6. Bumi suksma; yakni istana kesabaran dan rasa sukur kepada Tuhan; sukma sejati.

7. Bumi Rahmat; istana rasa mulia; rahsa sejati.


Titik Lemah

Nung, setara dengan Hakekat, di sini ibarat puncak kemuliaan. Semakin tinggi tataran spiritual, maka sedikit saja godaan sudah dapat menggugurkan pencapaiannya. Maka, semakin tinggi puncak dan kemuliaan seseorang ; maka semakin besar resiko tertiup angin dan jatuh. Seseorang yang merasa sudah PUAS dan BANGGA dengan pencapaian hakekat ini bersiko terlena. Lantas menganggap orang lain remeh dan rendah. Yang paling berbahaya adalah menganggap tataran ini merupakan tataran tertinggi sehingga orang tidak perlu lagi berusaha menggapai tataran yang lebih tinggi.


Tingkat 4 (Nang; sembah rahsa)

Nang merupakan kemenangan. Kemenangan adalah anugrah yang anda terima. Yakni kemenangan anda dari medan perang. Perang antara nafsu negatif dengan positif. Kemenangan NUR (cahya sejati nan suci) mengalahkan NAR (api; ke-aku-an/”iblis”). Manusia NAR adalah seteru Tuhan (iblis laknat). SEBALIKNYA; manusia NUR adalah memenuhi janji atas kesaksian yg pernah ia ucapkan di mulut dan hati. Manusia NUR memenuhi kodratnya ke dalam kodrat Ilahi, sipat zat yg mengikuti sifat hakekat, menselaraskan gelombang batin manusia dengan gelombang energi Tuhan. Sifat zat (manusia) menyatu dengan sifat hakekat (Tuhan) menjadi “loroning atunggil“. Yang menjadi jumbuh (campur tak bisa dipilah) antara kawula dengan Gusti. Inilah pertanda akan kemenangan manusia dalam “berjihad” yang sesungguhnya. Yakni kemenangan terindah dalam kemanunggalan; “manunggaling kawula-Gusti“. Bila Anda muslim, di situlah tatar makrifat dapat ditemukan.
Continue Reading

MERAIH KASAMPURNAN HIDUP

| 0 comments



LAKSITA JATI

Ilmu yang mengajarkan tata cara menghargai diri sendiri, dengan “laku” batin untuk mensucikan raga dari nafsu angkara murka (amarah), nafsu mengejar kenikmatan (supiyah), dan nafsu serakah (lauwamah). Pribadi membangun raga yang suci dengan menjadikan raga sebagai reservior nafsul mutmainah. Agar supaya jika manusia mati, raganya dapat menyatu dengan “badan halus” atau ruhani atau badan sukma.

Hakikat kesucian, “badan wadag” atau raga tidak boleh pisah dengan “badan halus”, karena raga dan sukma menyatu (curigo manjing warongko) pada saat manusia lahir dari rahim ibu. Sebaliknya, manusia yang berhasil menjadi kalifah Tuhan, selalu menjaga kesucian (bersih dari dosa), jika mati kelak “badan wadag” akan luluh melebur ke dalam “badan halus” yang diliputi oleh kayu dhaim, atau Hyang Hidup yang tetap ada dalam diri kita pribadi, maka dilambangkan dengan “warongko manjing curigo”. Maksudnya, “badan wadag” melebur ke dalam “badan halus”. Pada saat manusia hidup di dunia (mercapada), dilambangkan dengan “curigo manjing warongko”; maksudnya “badan halus” masih berada di dalam “badan wadag”. Maka dari itu terdapat pribahasa sebagai berikut:

“Jasad pengikat budi, budi pengikat nafsu, nafsu pengikat karsa (kemauan), karsa pengikat sukma, sukma pengikat rasa, rasa pengikat cipta, cipta pengikat penguasa, penguasa pengikat Yang Maha Kuasa”.


Sebagai contoh :

Jasad jika mengalami kerusakan karena sakit atau celaka, maka tali pengikat budi menjadi putus. Orang yang amat sangat menderita kesakitan tentu saja tidak akan bisa berpikir jernih lagi. Maka putuslah tali budi sebagai pengikat nafsu. Maka orang yang sangat menderita kesakitan, hilanglah semua nafsu-nafsunya; misalnya amarah, nafsu seks, dan nafsu makan. Jika tali nafsu sudah hilang atau putus, maka untuk mempertahankan nyawanya, tinggal  tersisa tali karsa atau kemauan. Hal ini, para pembaca dapat menyaksikan sendiri, setiap orang yang menderita sakit parah, energi untuk bertahan hidup tinggalah kemauan atau semangat untuk sembuh. Apabila karsa atau kemauan, dalam bentuk semangat untuk sembuh sudah hilang, maka hilanglah tali pengikat sukma, akibatnya sukma terlepas dari “badan wadag”, dengan kata lain orang tersebut mengalami kematian. Namun demikian, sukma masih mengikat rasa, dalam artian sukma sebenarnya masih memiliki rasa, dalam bentuk rasa sukma yang berbeda dengan rasa ragawi. Bagi penganut kejawen percaya dengan rasa sukma ini. Maka di dalam tradisi Jawa, tidak boleh menyianyiakan jasad orang yang sudah meninggal. Karena dipercaya sukmanya yang sudah keluar dari badan masih bisa merasakannya.  Rasa yang dimiliki sukma ini, lebih lanjut dijelaskan karena sukma masih berada di dalam dimensi bumi, belum melanjutkan “perjalanan” ke alam barzah atau alam ruh.

            Rahsa atau rasa, merupakan hakikat Dzat (Yang Maha Kuasa) yang mewujud ke dalam diri manusia. Dzat adalah Yang Maha Tinggi, Yang Maha Kuasa, Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Urutan dari yang tertinggi ke yang lebih rendah adalah sebagai berikut;

   1. Dzat (Dzatullah) Tuhan Yang Maha Suci, meretas menjadi;
   2. Kayu Dhaim (Kayyun) Energi Yang Hidup, meretas menjadi;
   3. Cahya atau cahaya (Nurullah), meretas menjadi;
   4. Rahsa atau rasa atau sir (Sirrullah), meretas menjadi ;
   5. Sukma atau ruh (Ruhullah).


No 1 s/d no 5 adalah retasan dari Dzat, Tuhan Yang Maha Kuasa, maka ruh bersifat abadi, cahaya bersifat mandiri tanpa perlu bahan bakar. Ruh yang suci yang akan melanjutkan “perjalanannya” menuju ke haribaan Tuhan, dan akan melewati alam ruh atau alam barzah, di mana suasana menjadi “jengjem jinem” tak ada rasa lapar-haus, emosi, amarah, sakit, sedih, dsb. Sebelum masuk ke dimensi barzah, ruh melepaskan tali rasa, kemudian ruh masuk ke dalam dimensi alam barzah menjadi hakikat cahaya tanpa rasa, dan tanpa karsa. Yang ada hanyalah ketenangan sejati, manembah kepada gelombang Dzat, lebur dening pangastuti.


KONSEP ARWAH PENASARAN

Sebaliknya ruh yang masih berada di dalam dimensi gaibnya bumi, masih memiliki tali rasa, misalnya rasa penasaran karena masih ada tanggungjawab di bumi yang belum terselesaikan, atau jalan hidup, atau “hutang” yang belum terselesaikan, menyebabkan rasa penasaran. Oleh karena itu dalam konsep Kejawen dipercaya adanya arwah penasaran, yang masih berada di dalam dimensi gaibnya bumi. Sehingga tak jarang masuk ke dalam raga orang lain yang masih hidup yang dijadikan sebagai media komunikasi, karena kenyataan bahwa raganya sendiri telah rusak dan hancur. Itulah sebabnya mengapa di dalam ajaran Kejawen terdapat tata cara “penyempurnaan” arwah (penasaran) tersebut.


JALAN SETAPAK MERAIH KESUCIAN

(Jihad/Perang Baratayudha/Perang Sabil)

            Mati penasaran, kebalikan dari mati sempurna. Dalam kajian Kejawen, mati dalam puncak kesempurnaan adalah mati moksa atau mosca atau mukswa. Yakni warangka (raga) manjing curigo (ruh). Raga yang suci, adalah yang tunduk kepada kesucian Dzat yang terderivasi ke dalam ruh. Ruh suci/roh kudus (ruhul kuddus) sebagai retasan dari hakikat Dzat, memiliki 20 sifat yang senada dengan 20 sifat Dzat, misalnya kodrat, iradat, berkehendak, mandiri, abadi, dst. Sebaliknya, ruh yang tunduk kepada raga hanya akan menjadi budak nafsu duniawi, sebagaimana sifat hakikat ragawi, yang akan hancur, tidak abadi, dan destruktif. Menjadi raga yang nista, berbanding terbalik dengan gelombang Dzat Yang Maha Suci. Oleh karena itu, menjadi tugas utama manusia, yakni memenangkan perang Baratayudha di Padang Kurusetra, antara Pendawa (kebaikan yang lahir dari akal budi dan panca indera) dengan musuhnya Kurawa (nafsu angkara murka). Perang inilah yang dimaksud pula dalam ajaran Islam sebagai Jihad Fii Sabilillah, bukan perang antar agama, atau segala bentuk terorisme.

Adapun ajaran untuk menggapai kesucian diri, atau Jihad secara Kejawen, yakni mengendalikan hawa nafsu, serta menjalankan budi (bebuden) yang luhur nilai kemanusiannya (habluminannas) yakni ; rela (rilo), ikhlas (legowo), menerima/qonaah (narimo ing pandum), jujur dan benar (temen lan bener), menjaga kesusilaan (trapsilo) dan jalan hidup yang mengutamakan budi yang luhur (lakutama). Adalah pitutur sebagai pengingat-ingat agar supaya manusia selalu eling atau selalu mengingat Tuhan untuk menjaga kesucian dirinya, seperti dalam falsafah Kejawen berikut ini :

“jagad bumi alam kabeh sumurupo marang badan, badan sumurupo marang budi, budi sumurupo marang napsu, napsu sumurupo marang nyowo, nyowo sumurupo marang rahso, rahso sumurupo marang cahyo, cahyo sumurupo marang atmo, atmo sumurupo marang ingsun, ingsun jumeneng pribadi”

(jagad bumi seisinya pahamilah badan, badan pahamilah budi, budi pahamilah nafsu, nafsu pahamilah nyawa, nyawa pahamilah karsa, karsa pahamilah rahsa, rahsa pahamilah cahya, cahya pahamilah Yang Hidup, Yang Hidup pahamilah Aku, Aku berdiri sendiri (Dzat).

Artinya, bahwa manusia sebagai derivasi terakhir yang berasal dari Dzat Sang Pencipta harus (wajib) memiliki kesadaran mikrokosmis dan makrokosmis yakni “sangkan paraning dumadi” serta tunduk, patuh dan hormat (manembah) kepada Dzat Tuhan Pencipta jagad raya.

Selain kesadaran di atas, untuk menggapai kesucian manusia harus tetap berada di dalam koridor yang merupakan “jalan tembus” menuju Yang Maha Kuasa. Adalah 7 perkara yang harus dicegah, yakni;

1.      Jangan ceroboh, tetapi harus rajin sesuci.
2.      Jangan mengumbar nafsu makan, tetapi makanlah jika sudah merasa lapar.
3.      Jangan kebanyakan minum, tetapi minum lah jika sudah merasa haus.
4.      Jangan gemar tidur, tetapi tidur lah jika sudah merasa kantuk.
5.      Jangan banyak omong, tetapi bicara lah dengan melihat situasi dan kondisi.
6.      Jangan mengumbar nafsu seks, kecuali jika sudah merasa sangat rindu.
7.      Jangan selalu bersenang-senang hati dan hanya demi membuat senang orang-orang, walaupun  sedang memperoleh kesenangan, asal tidak meninggalkan duga kira.

Demikian pula, di dalam hidup ini jangan sampai kita terlibat dalam 8 perkara berikut;

1.      Mengumbar hawa nafsu.
2.      Mengumbar kesenangan.
3.      Suka bermusuhan dan tindak aniaya.
4.      Berulah yang meresahkan.
5.      Tindakan nista.
6.      Perbuatan dengki hati.
7.      Bermalas-malas dalam berkarya dan bekerja.
8.      Enggan menderita dan prihatin.

Sebab perbuatan yang jahat dan tingkah laku buruk hanya akan menjadi aral rintangan dalam meraih rencana dan cita-cita, seperti digambarkan dalam rumus bahasa berikut ini;

1.      Nistapapa; orang nista pasti mendapat kesusahan.
2.      Dhustalara; orang pendusta pasti mendapat sakit lahir atau batin.
3.      Dorasangsara; gemar bertikai pasti mendapat sengsara.
4.      Niayapati; orang aniaya pasti mendapatkan kematian.


PERBUATAN, PASTI MENIMBULKAN “RESONANSI”

Demikian lah, sebab pada dasarnya perilaku hidup itu ibarat suara yang kita kumandang akan menimbulkan gema, artinya apapun perbuatan kita kepada orang lain, sejatinya akan berbalik mengenai diri kita sendiri. Jika perbuatan kita baik pada orang lain, maka akan menimbulkan “gema” berupa kebaikan yang lebih besar yang akan kita dapatkan dari orang lainnya lagi. Hal ini dapat dipahami sebagaimana dalam peribahasa;

Barang siapa menabur angin, akan menuai badai,

Siapa menanam, akan mengetam,

Barang siapa gemar menolong, akan selalu mendapatkan kemudahan,

Barang siapa gemar sedekah kepada yang susah, rejekinya akan menjadi lapang.

Orang pelit, pailit

Pemurah hati, mukti



PERILAKU TAPA BRATA

Idealnya, setiap orang sepanjang hidupnya dapat melaksanakan “tapa brata” atau mesu-budi, menahan hawa nafsu, yg mempunyai kesamaan dengan hakikat puasa seperti di bawah ini;

1.      Tapa/puasanya badan/raga; harus anoraga; rendah hati; gemar berbuat baik.

2.      Tapa/puasanya hati; nerima apa adanya; qonaah; tak punya niat/prasangka  buruk, tidak iri hati.

3.      Tapa/puasanya nafsu; ikhlas dan sabar dalam menerima musibah, serta memberi maaf kepada orang  lain.

4.      Tapa/puasanya sukma; jujur.

5.      Tapa/puasanya rahsa; mengerem sembarang kemauan, serta kuat prihatin dan menderita.

6.      Tapa/puasanya cahya; eneng-ening; tirakat atau bertapa dalam keheningan, kebeningan, dan kesucian.

7.      Tapa/puasanya hidup (gesang); eling (selalu ingat/sadar makro-mikrokosmos) dan selalu waspada dari segala perilaku buruk.



Selain itu, anggota badan (raga) juga memiliki tanggungjawab masing-masing sebagai wujud dari hakikat puasa atau tapa brata ;

1.      Tapa/puasanya netro/mata; mencegah tidur, dan menutup mata dari nafsu selalu ingin memiliki/menguasai.

2.      Tapa/puasanya karno/telinga; mencegah hawa nafsu, enggan mendengar yang tak ada manfaatnya atau yang buruk-buruk.

3.      Tapa/puasanya grono/hidung; mencegah sikap gemar membau, dan enggan “ngisap-isap” keburukan orang lain.

4.      Tapa/puasanya lisan/mulut; mencegah makan, dan tidak menggunjing  keburukan orang lain.

5.      Tapa/puasanya puruso/kemaluan; mencegah syahwat, tidak sembarangan ngentot/rakit/ngewe/senggama/zina.

6.      Tapa/puasanya asto/tangan; mencegah curi-mencuri, rampok, nyopet, korupsi, dan tidak suka cengkiling; jail dan menyakiti orang lain.

7.      Tapa/puasanya suku/kaki; mencegah langkah menuju perbuatan jahat, atau kegiatan negatif, tetapi harus gemar berjalan sembari “semadi” yakni berjalan sebari eling lan waspodo.


Tapa/maladihening/mesu budi/puasa seperti di atas dapat diumpamakan dalam gaya bahasa personifikasi, yang memiliki nilai falsafah yang sangat tinggi dan mendalam sbb;

“Katimbang turu, becik tangi. Katimbang tangi, becik melek. Katimbang melek, becik lungguh. Katimbang lungguh, becik ngadeg. Katimbang ngadeg, becik lumakuo”.

(Daripada tidur lebih baik bangun. Daripada bangun lebih baik melek. Daripada melek lebih baik duduk. Daripada duduk lebih baik berdiri. Daripada berdiri lebih baik melangkah lah)

Untuk meraih kesempurnaan dalam melaksanakan tata laku di atas, hendaknya setiap langkah kita selalu eling dan waspada. Agar supaya setelah menjadi manusia pinunjul tidak menjadi sombong dan takabut, sebaliknya justru harus disembunyikan semua kelebihan tersebut, dan tidak kentara oleh orang lain, sehingga setiap jengkal kelemahan tidak memancing hinaan orang lain. Untuk itu manusia pinunjul harus;

1.      Solahbawa, harga diri, perbuatan, harus selalu di jaga

2.      Keluarnya ucapan harus dibuat yang mendinginkan, menyejukkan, dan menentramkan lawan bicara

3.      Raut wajah yang manis, penuh kelembutan dan kasih sayang.


Inilah sejatinya tata krama dalam ajaran Kejawen. Kesempurnaan dalam melaksanakan langkah-langkah di atas, seyogyanya menimbang situasi dan kondisi, menimbang waktu dan tempat secara tepat, tidak asal-asalan. Karena sekalipun “isi”nya berkualitas, tetapi bungkusnya jelek, maka “isi”nya menjadi tidak berharga. Dengan kata lain, jangan mengabaikan (dugoprayoga) duga kira, bagaimana seharusnya yang baik. Sebab sesempurnanya manusia tetap memiliki kekurangan atau kelemahan, sehingga manakala kelemahan dan kekurangan tersebut diketahui orang lain tidak akan menjadi “batu sandungan”. Seperti dalam ungkapan sebagai berikut;


1.      Kusutnya pakaian; tertutup oleh derajat (harga diri) yang luhur.

2.      Terpelesetnya lidah, tertutup oleh manisnya tutur kata.

3.      Kecewanya warna, tertutup oleh budi pekerti.

4.      Cacadnya raga, tertutup oleh air muka yang ramah.

5.      Keterbatasan, tertutup oleh sabar dan bijaksana.


Oleh karena itu, meraih kesempurnaan dalam konteks ini diartikan kesempurnaan dalam melaksanakan tapa brata. Kegagalan melaksanakan tapa brata, dapat membawa manusia kepada zaman “paniksaning gesang” tidak lain adalah nerakanya dunia, seperti di bawah ini;

1.       Zamannya kemelaratan,  dimulai dari perilaku boros

2.       Zamannya menderita aib, dimulai dari watak lupa terlena, tanpa awas.

3.       Zamannya kebodohan, dimulai dari sikap malas dan enggan.

4.       Zamannya angkara, dimulai dengan sikap mau menang sendiri

5.       Zamannya sengsara, dimulai dari perilaku yang kacau.

6.       Zamannya penyakit, diawali dari kenyang makan.

7.       Zamannya kecelakaan, diawali dari perbuatan mencelakai orang lain.



Sebaliknya, “ganjaraning gesang” atau “surganya dunia”,  lebih dari sekedar kemuliaan hidup itu sendiri, yakni;

1.       Zamannya keberuntungan, awalnya dari sikap hati-hati, tidak ceroboh.

2.       Zamannya kabrajan, awalnya dari budi luhur dan belas kasih.

3.       Zamannya keluhuran, awalnya dari giat andap asor, sopan santun.

4.       Zamannya kebijaksanaan, awalnya dari telaten bibinau.

5.       Zamannya kesaktian (kasekten), awalnya dari puruita dan tapabrata.

6.       Zamannya karaharjan (ketentraman-keselamatan), awalnya dari eling dan waspada.

7.       Zamannya kayuswan (umur panjang), awalnya sabar, qonaah, narimo, legowo, tapa.



SHALAT/SEMBAHYANG DHAIM



Sebagai tulisan penutup, Sabdalangit berusaha memaparkan garis besar TAPA BRATA, agar supaya mudah diingat dan gampang dicerna bagi para pembaca yang masih awam tentang ajaran Kejawen.

Selain dipaparkan di atas, sejalan dengan bertambahnya usia, seyogyanya hidup itu sembari mencari ciptasasmita, “tuah” atau petunjuk yang tumbuh jiwa yang matang dan dari dalam lubuk budi yang suci. Pada dasarnya, tumbuhnya budipekerti (bebuden)  yang luhur, berasal dari tumbuhnya rasa eling, tumbuhnya kebiasaan tapa, tumbuhnya sikap hati-hati,  tumbuhnya “tidak punya rasa punya”,  tumbuhnya kesentausaan, tumbuhnya kesadaran diri pribadi, tumbuhnya “lapang dada”, tumbuhnya ketenangan batin, tumbuhnya sikap manembah (tawadhu’). Pertumbuhan itu berkorelasi positif atau sejalan dengan usia seseorang.

Akan tetapi, jika semakin lanjut usia seseorang akan tetapi perkembangannya berbanding terbalik, mempunyai korelasi negatif, yakni justru memiliki tabiat dan karakter seperti anak kecil, ia merupakan produk topobroto yang gagal. Untuk mencegahnya tidak lain harus selalu mencegah hawa nafsu, serta mengupayakan dengan sungguh-sungguh untuk meraih kesempurnaan ilmu. Begitu pentingnya hingga adalah “wewarah” yang juga merupakan nasehat yang hiperbolis, sbb;

“ageng-agenging dosa punika tiyang ulah ilmu makripat ingkang magel. Awit saking dereng kabuko ing pambudi, dados boten superep ing suraosipun”


            Bagi yang sudah lulus, dapat menerima semua ilmu, tentu akan menemui kemuliaan “sangkan paran ing dumadi”. Siapa yang sunguh-sungguh mengetahui Tuhannya, sesungguhnya dapat mengetahui di dalam badanya sendiri. Siapa yang sungguh-sunggun mengetahui badannya sendiri, sesungguhnya mengetahui Tuhannya. Artinya siapa yang mengetahui Tuhannya, ia lah yang mengetahui semua ilmu kajaten (makrifat). Siapa yang sunguh-sungguh mengetahui sejatinya badannya sendiri, ia lah yang dapat mengetahui akan hidup jiwa raganya sendiri. Kita harus selalu ingat bahwa hidup ini tidak akan menemui sejatinya “ajal”, sebab kematian hanyalah terkelupasnya isi dari kulit. “Isi” badan melepas “kulit” yang telah rusak, kemudian “isi” bertugas melanjutkan perjalanan ke alam keabadian.  Hanya raga yang suci yang tidak akan rusak dan mampu menyertai perjalanan “isi”. Sebab raga yang suci, berada dalam gelombang Dzat Illahi yang Maha Abadi.

Maka dari itu, jangan terputus dalam lautan “manembah” kepada Gusti Pangeran Ingkang Sinembah. Agar supaya menggapai “peleburan” tertinggi, lebur dening pangastuti; yakni raga dan jiwa melebur ke dalam Cahaya yang Suci; di sanalah manusia dan Dzat menyatu dalam irama yang sama; yakni manunggaling kawulo gusti. Dengan sarana selalu mengosongkan panca indra, serta menyeiramakan diri pada Sariraning Bathara, Dzat Yang Maha Agung, yang disebut sebagai “PANGABEKTI INGKANG LANGGENG” (shalat dhaim) sujud, manembah (shalat) tanpa kenal waktu, sambung-menyambung dalam irama nafas, selalu eling dan menyebut Dzat Yang serba Maha. Adalah ungkapan;

“salat ngiras nyambut damel, lenggah sinambi lumampah, lumajeng salebeting kendel, ambisu kaliyan wicanten, kesahan kaliyan tilem, tilem kaliyan melek.

(sembahyang sambil bekerja, duduk sambil berjalan, berjalan di dalam diam, membisu dengan bicara, bepergian dengan tidur, tidur sembari melek).

Jika ajaran ini dilaksanakan secara sungguh-sungguh, berkat Tuhan Yang Maha Wisesa, setiap orang dapat meraih kesempurnaan Waluyo Jati, Paworing Kawulo Gusti, TIDAK TERGANTUNG APA AGAMANYA.
Continue Reading
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2018. ABDULLAH SYSTEM - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger