tulisan oleh Kandjeng Pangeran Karyonagoro,
- Sallahu allaihi wasallam,
Peksi Nala,
mulih he muliya,
he; Rengkulu, Saka Guru,
Sumuruping Kadratullah,
murub mumbul ing ngawang padhang,
haningali, hawang-hawang.
- Awang dalem tinut dening iman;
Seg, padang teka padhang,
lah padhang, adoh katon cedhak,
katon byar padhang,
teka padhang,
Peksi Nala, wengakna lawang suwarga,
inepen lawang neraka.
- Repp…. gregg….hiya iku Peksi Nala;
Kang misesa liyeping Karsa Mulya,
tan ana kerasa,
sampurna ing badane,
selamet sak parane,
teka sakajate! Amin, Amin, Amin!
Terjemahan:
- Sallahu allaihi wasallama;
Peksi Nala,
Kembali…. hei…. kembalilah,
hei, Rengkulu, Matahari, Saka Guru,
yang meresap dikodratullah,
menyala dan membubung diangkasa cemerlang,
melihati langit dan angkasa.
- Wahana-MU diturut oleh iman;
Seg, teranglah dan terang,
okh, terang, sekalipun jauh terlihat dekat,
kelihatan…. pyaar…. cemerlang terang,
sekonyong-konyong………. terang,
Peksi Nala, bukalah pintu surga ini,
tutuplah pintu neraka ini.
- Repp…. gregg….yaitu Peksi Nala;
Yang misesa liyepnya Karsa Yang Mulia,
tiada terasa apa-apa,
sempurnalah dibadannya,
selamatlah kemana perginya,
sampailah segala niatnya! Amin, Amin, Amin!
Makna bait-bait wirid di atas khusus bagi orang yang akan menuju
keakhir kejadian, atau sewaktu kita hendak ajal! Karenanya, dilarang
untuk bahan pembicaraan, menjaga kemurnian sastra tersebut, kalau memang
diperlukan hanya dua kali di ucapkan untuk “menolong” orang-orang yang
akan meninggal dunia, artinya hanya di peruntukkan dua orang pada hari
itu bilama (di desa) tempat kita terdapat kematian!
Kalau wirid dibait-bait tersebut hanya dibaca saja tanpa pengertian
yang mendalam samalah artinya kalau kita sewaktu meneriakkan
slogan-slogan reklame; seyogyanya dihafal serta mengerti satu persatu
apa dan dimana, surga, neraka dan akhirat serta bagaimana cara
menyelaraskan wahana tersebut. Saya yakin apabila tidak disebar luaskan,
maka Ilmu Kamuksan di atas akan lenyap bersama orang-orang Tua-tua yang
mempunyai Ilmu itu atau Wirid Ilmu Khaq Sejati yang sempurna,
dikarenakan uleh dua faktor:
- Pertama, orang Tua-tua kita masih merahasiakan,
- Kedua, dibawa oleh puputnya umur orang-orang tersebut!
Sungguh-sungguh akan berterimakasih para jiwa-jiwa yang meninggalkan
badannya setelah mendapat “wisikan atau bisikan” bunyi ilmu tersebut…,
karena peribahasa memberikan tongkat orang yang akan tergelincir, atau
memberikan obor orang yang sedang kegelapan!
Cara untuk mengamalkan ilmu tersebut (kepada siapa ilmu itu
diberikan), terserah kepada para pembaca, kalau tidak dengan wajar
sebagaimana Guru mengajar muridnya, (seyampang orang-orang selagi hidup)
setidak-tidaknya “berikan ilmu” ini terhadap orang yang akan menemui
ajal dengan cara membisikkan melalui telinga kirinya!
Dengan demikian mulai sekarang, dari pada kita dicekam rasa kecewa
dibelakang hari, sebab pada alam Sakarotilma’oti tidak seorangpun akan
dapat menolong kita, sekalipun dengan suatu “matram” yang dianggap
ampuh!
Untuk lebih memudahkan dan meresapi dalam mengamalkan ilmu tersebut, dengan penjelasan sebagai berikut :
a. “Peksi Nala” artinya : Peksi = burung, sedangkan Nala = hati (dari bahasa Kawi), jadi maksudnya hati laksana burung.
Sedangkan “Ilmu Kamuksan” berasal dari bahasa Kawi yang artinya :
mati dengan disertai badannya, wadagnya atau jasadnya, hal-hal mana dulu
banyak dilakukan para leluhur kita seperti para Raja-raja,
Pandhita-pandhita pada zamanya!”.
“Rengkulu, Srengenge-srengenge (matahari), Soko Guru” artinya:
- Rengkulu = bantal,
- Srengenge-srengenge = sifat panas,
- Soko Guru = tiang rumah yang jumlahnya empat; kiasannya, hati
manusia itu sadar-taksadar-selalu bersandar kepada empat nafsu yang
selalu panas!”.
“Sumuruping Kodratullah” bahasa ini mempunyai dua makna :
“sumuruping” atau dapat diartikan meresap atau telah mengetahui. Bila
“sumurup” ini disamakan dengan “surup” akan menjadi “kesurupan” artinya
dimasuki; jadi yang tepat adalah “meresapi”, jelasnya semua pekertinya
bathin yang berpangkal dari “hati” itu, benar-benar diresapi oleh
kodratnya Allah atau hati adalah benar-benar bekerja atas kuasanya
Allah! Ingat bahwa semua yang lahir maupun yang bathin adalah kehendak
dan af’al-Nya!.
b. Yang terpenting dalam pengamalan Peksi Nala sewaktu “mendobrak”
pintu surga dan neraka, selanjutnya surga dan neraka adalah “jodohnya”
atau dapat diganti dengan sebutan: senang atau susah, sehat dan sakit
adalah satu rasa yang dirasakan oleh hati, di dalam dalil Qur’an
diterangkan bahwa azab neraka berpangkal dari tiga pintu, tetapi
pintu-pintu yang sebenarnya berjumlah tujuh!
Uraian-uraian selanjutnya sejajar dengan Wirid Hidayat Jati. Inilah hakekatnya dari pada Roh dan Hati Surga dan Neraka:
1. HATI PU’AT : ialah jantung, pintunya di puser, rohnya disebut
Rohullah; Surganya dinamakan Jannatul Na’iem, maksudnya… lebih nikmat,
buktinya tidur pulas. Nerakanya Jahanam, artinya lebih panas, buktinya
lapar dan sakit perut!
2. HATI MUZARAT : YAITU Syulbi, pintunya di zakar, rohnya Roh Qudus,
Surganya Jannatul Adnin, maksudnya lebih elok, buktinya keluar mani,
Nerakanya Zakinn, artinya lebih dingin, buktinya waktu mandi zinabat,
atau kencing!
3. HATI TAWAJUH : yaitu perut, pintunya di anus (zubur), rohnya Roh
Syirikul’alam, Surganya Jannatul Thawwab, maksudnya puas, buktinya
kentut dan berak; Nerakanya disebut Wailun maksudnya lebih sakit,
buktinya waktu sakit berak dan berak darah!
4. HATI SALIM : yaitu ginjal, pintunya di hidung, nafsunya Mutmainah;
warnanya putih, kerjanya mencium, membau, rohnya Roh Ruhkani; Surganya
Jannatul Firdaus, artinya lebih lama, buktinya keluar masuhnya nafas;
Nerakanya disebut Asfala’safilien, maksudnya sesak nafas, tandanya sakit
mengi (sesak nafas)
5. HATI SANUBARI : yaitu limpa, pintunya di mata, nafsunya Sufiyah,
warnanya kuning, pekernya melihat, rohnya Roh Rabani; Surganya Jannatul
Syamsi, artinya lebih terang, buktinya mengetahui segala yang ada;
Nerakanya Syahhir, artinya gelap…, nyatanya sakit lamur atau buta!
6. HATI MAKNAWI : yaitu empedu, pintunya di telinga, nafsunya Amarah,
warnanya merah, rohnya Roh …. (?); Surganya Jannatul Ma’oti, artinya
lebih elok, buktinya perpaduannya suara; Nerakanya Laliem, maksudnya
pepet, nyatanya sakit telinga atau tuli!
7. HATI SAWADI: yaitu usus, pintunya mulut, nafsunya Aluamah, rupanya
hitam, pekertinga bicara, rohnya Roh Ilafi, Surganya Jannatul Syukhri,
artinya lebih suka, nyatanya tertawa; Nerakanya Sukhra, maksudnya risi,
nyatanya waktu menangis!
Ini suatu budaya yg hilang, apapun itu kita sebagai bangsa yg besar
tetap harus menghormati peninggalan leluhur, sabar ini musti artikan ke
dalam bahasa Indonesia.
Makna sebenarnya dari Ilmu Kamuksan diatas terletak bulat-bulat pada
kesempurnaan badaniah yang mengharuskan kesehatan disamping latihan
bathin yang khusus bagi kebatinan! Apakah hanya dengan membaca wirid
Ilmu Kamuksan tersebut akan otomatis begitu saja setelah ajal kita
sampai, kemudian badan dan jiwa sempurna dan lenyap? Syukurlah kalau
wirid diatas tanpa dipelajari dan tanpa syarat-syarat apapun dapat
menyempurnakan pati dan hidup kita! Kalau jawabannya “belum” percumalah,
walaupun bagaimana keampuhan wirid-wirid tersebut tetap tidak akan
dapat menolong! Sesuai falsafah Jawa, asal kita dapat melatih Semedi
pada jam-jam tertentu dengan melatih juga “mengembalikan” kondisi
aslinya indriya-indriya tersebut misalkan : kembalikan suara, artinya
melatih tidak mendengar sesuatu, kembalikan bau artinya hidung berhenti
dulu tidak membau dan sebagainya; bukan berarti seperti zaman yang
sudah-sudah kita diharuskan mengembalikan “suara kepada yang punya
suara”, dalam pemikiran timbul gugatan “Siapa yang punya suara?”.
Menurut Wirid Hidayat Jati “Iradatnya Dat” dalan bahasa
Indosnesia-nya kurang lebih sebagai berikut: karena sebenar-benarnya
yang menjadi larangan atau pantangan dari para ulah Ilmu Kasampurnan itu
hanya terletak pada “nafsu”. Kalau dapat mengikis (mengurangi) biasanya
timbul hati yang awas dan ingat (awas lan emut, Jawa).
Karena benar-benar bahwa kita hidup melulu pengemban rasa dengan
keterangan-keterangan Hidayat Jati tersebut benar dan nyata bahwa surga
dan neraka yang berpintu tujuh dari poko asalnya (salurannya) berpintu
tiga bukan di “sana-sana” tetapi… disilah, dibadan kita yang
keselurahannya minta perhatian khusus, agar tidak nyeleweng yang dapat
menimbulkan rasa-rasa yang kita inginkan! Sesungguhnya memang Peksi
Nala-lah yang dapat mempengaruhi, misesa, memerintah atau mengendalikan
semua hasrat-hasrat lahir bathin; karenanya benar-benar sukses atau
tercapai segala tujuan, hanya terletah pada hati.
Harap diingat bahwa wirid tersebut sekali lagi hanya dapat
“MERINGANKAN” jalannya Roh waktu meninggalkan badan sewaktu ajal, agar
tidak terperosok ke alam penasaran, lebih-lebih kalau mulai sekarang
kita amalkan dan hayati sesuai petunjuk Guru masing-masing, insya’allah
ajal kita menuju sempurna, kembali ke asal awalnya “DARI TIADA RASA KE
TIADA RASA”! Amin, Amin, Amin.
lha….ini ada cara moksa hilang sama sekali badan kasarnya, kalau kandjeng tulis bisa pada kemingsun semua…..
secret….kalau ingin belajar MKG benar dgn teratur baru kita infokan, nanti ndak kegeden empyak kurang cagak.
Kasampurnan Ala Serat Pangracutan
Serat Kekiyasanning Pangracutan adalah salah satu buah karya
sastra Sultan Agung Raja Mataram antara (1613-1645). Serat Kekiyasaning
Pangracutan ini juga menjadi sumber penulisan Serat Wirid Hidayat Jati
yan…g dikarang oleh R.Ng Ronggowarsito karena ada beberapa bab yang
terdapat pada Serat kekiyasanning Pangracutan terdapat pula pada Serat
Wirid Hidayat Jati. Pada manuskrip huruf Jawa Serat kekiyasanning
Pangracutan tersebut telah ditulis kembali pada tahun shaka 1857 / 1935
masehi. Disyahkan oleh pujangga di Surakarta RONG no-GO ma-WAR ni SI ra
TO = Ronggowarsito atau R. Ng. Rongowarsito.
SARASEHAN ILMU KESAMPURNAAN
Ini adalah keterangan Serat tentang Pangracutan yang telah
disusun Baginda Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma Panatagama di Mataram
atas perkenan beliau membicarakan dan temu nalar dalam hal ilmu yang
sangat rahasi…a, untuk mendapatkan kepastian dan kejelasan dengan
harapan dengan para ahli ilmu kasampurnaan.
Adapun mereka yang diundang dalam temu nalar itu oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma Panatagama adalah:
I. Panembahan Purbaya
II. Panembahan Juminah
III. Panembahan Ratu Pekik di Surabaya
IV. Panembahan Juru Kithing
V. Pangeran Kadilangu
VI. Pangeran Kudus
VII. Pangeran Tembayat
VIII. Pangeran Kajuran
IX. Pangeran Wangga
X. Kyai Pengulu Ahmad Kategan
Berbagai kejadian pada jenasah
Adapun yang menjadi pembicaraan, beliau menanyakan apa yang telah
terjadi setelah manusia itu meninggal dunia, ternyata mengalami
bermacam-macam kejadian pada jenazahnya.
a. Ada yang langsung membusuk
b. Ada jenasah yang masih utuh
c. Ada yang hilang bentuk jenasahnya ? tidak berbentuk lagi
d. Ada yang meleleh menjadi cair
e. Ada yang menjadi mustika ( permata )
f. Istimewanya ada yang menjadi hantu
g. Bahkan ada pula yang menjelma menjadi hewan
Masih banyak pula kejadian lainnya, bagaimana itu bisa terjadi, apa
penyebabnya. Ini disebabkan adanya kelainan atau salah kejadian (tdk
wajar), makanya pada waktu hidup berbuat dosa, setelah menjadi mayatpun
akan mengalami sesuatu, masuk kedalam alam penasaran. Karena pada saat
proses sakaratul maut hatinya menjadi ragu, takut, kurang kuat tekadnya,
tidak dapat memusatkan pikiran hanya pada satu jalan yaitu menghadapi
maut, seperti yang akan diutarakan dibawah ini :
- Pada waktu masih hidup, siapapun yang senang, tenggelam dalam
kekayaan, kemewahan, tidak mengenal tapa brata, setelah mencapai akhir
hayatnya, maka jenasahnya akan menjadi busuk dan kemudian menjadi tanah
liat, sukmanya melayang gentayangan, diumpamakan bagai rama-rama tanpa
mata. Sebaliknya bila pada saat hidupnya gemar menyucikan diri lahir
batin, hal itu sudah termasuk lampah, maka kejadiannya tidak demikian.
- Pada waktu masih hidup bagi mereka yang kuat puasa tetapi tidak
mengenal batas waktunya, bila telah tiba saat kematiannya, maka mayatnya
akan teronggok menjadi batu dan membuat tanah pekuburannya menjadi
sangar, adapun rohnya akan menjadi Danyang Semorobumi. Walaupun begitu,
bila pada masa hidupnya mempunyai sifat nrima, sabar, artinya makan,
tidur, tidak bermewah-mewah, cukup seadanya dengan perasaan tulus lahir
batin kemungkinanya tidak akan seperti diatas kejadian di akhir
hidupnya.
- Pada waktu masih hidup selalu sabar dan tawakal, dapat menahan hawa
nafsu, berani dalam lampah dan menjalani mati didalam hidupnya, misal
mengharapkan agar jangan berbudi rendah, rona muka manis, tutur kata
sopan, sabar dan sederhana, se…muanya itu jangan sampai berlebihan dan
haruslah tahu tempatnya situasi dan kondisi, yang demikian itu maka
keadaan jenasahnya akan mendapat kemulyaan sempurna dalam keadaan yang
hakiki, kembali menyatu dengan Dzat Pangeran Yang Maha Agung, yang dapat
menghukum, dapat menciptakan apa saja, ada bila menghendaki, datang
menururt kemauannya.
- Siapapun yang melantur dalam mencegah syahwat atau hubungan seks,
tanpa mengenal waktu, pada saat kematian kelak jenasahnya akan lenyap
melayang, masuk kedalam alamnya jin setan dan roh halus lainnya,
sukmanya sering menjelma dan menjadi… semacam benalu atau menempel pada
orang,seperti genderuwo dan sebagainya yang masih senang menggangu
wanita, kalau berada dipohon yang besar, kalau pohon dipotong maka
benalu tadi akan ikut mati. Walaupun begitu, bila pada masa masih hidup
disertakan sifat jujur, tidak berbuat mesum, tidak berzinah, bermain
seks dengan wanita yang bukan haknya, semua itu bila tidak dilanggar
tidak akan begitu kejadiannya.
Berbagai jenis Kematian
- Mati Kisas adalah suatu jenis kematian karena hukuman mati. Akibat
dari perbuatan orang itu karena membunuh, kemudian dijatuhi hukuman
karena keputusan pengadilan atas wewenang raja.
- Mati Kias adalah jenis kem…atian yang diakibatkan oleh suatu perbuatan, misalnya menahan nafas atau mati karena melahirkan.
- Mati Syahid adalah jenis kematian karena gugur dalam perang, dibajak, dirampok dan disamun.
- Mati Salih adalah suatu jenis kematian karena kelaparan, bunuh diri, karena mendapat aib atau sangat bersedih.
- Mati Tiwas adalah suatu jenis kematian karena tenggelam, tersambar
petir, tertimpa pohon, jatuh karena memanjat pohon, dan sebagainya.
- Mati Apes adalah suatu jenis kematian karena ambah-ambahan, epidemi,
santet, tenung dari orang lain, …yang demikian itu benar-benar tidak
dapat sampai pada “Kematian yang Sempurna” atau keadaan Jati bahkan
dekat sekali dengan alam penasaran.
Berkatalah beliau : “Sebab-sebab kematian tadi yang mengakibatkan
kejadiannya lalu apakah tidak ada perbedaannya antara yang berilmu
dengan yang bodoh ? Andaikan yang menerima akibat dari kematian seornag
pakarnya ilmu mistik, mengapa tidak… dapat mencabut seketika itu juga ?”
Dijawab oleh yang menghadap : “Yang begitu itu mungkin disebabkan
karena terkejut menghadapi hal-hal yang tiba-tiba. Maka tidak teringat
lagi dengan ilmu yang diyakininya dalam batin yang dirasakan hanyalah
penderitaan dan rasa sakit saja. Andaikan dia mengingat keyakinan
ilmunya mungkin akan kacau didalam melaksanakannya tetapi kalau selalu
ingat petunjuk-petunjuk dari gurunya maka kemungkinan besar dapat
mencabut seketika itu juga.
Setelah mendengar jawaban itu beliau merasa masih kurang puas menurut
pendaat beliau bahwa sebelum seseorang terkena bencana apakah tidak ada
suatu firasat dalam batin dan pikiran, kok tidak terasa kalau hanya
begitu saja beliau kurang sependapat oleh karenanya beliau mengharapkan
untuk dimusyawarahkan sampai tuntas dan mendapatkan suatu pendapat yang
lebih masuk akal.
Kyai Ahmad Katengan menghaturkan sembah: “Sabda paduka adalah benar,
karena sebenarnya semua itu masih belum tentu , hanyalah Kangjeng
Susuhunan Kalijogo sendiri yang dapat melaksanakan ngracut
Sebab-sebab inilah yang membuat dan mengakibatk…an kejadian,
seandainya dapat meracut seketika dalam keadaan terkejut atau tiba-tiba,
teringat dengan apa yang diyakininya akan ilmunya maka akan dapat
meracut seketika.
Wedaran Angracut Jasad.
Pangracutan Jasad yang dipergunakan oleh Susuhunan Kalijogo dan
Syekh Siti Jenar adalah sama, karena hanya mereka yang dapat meracut
seketika dan tiba-tiba, seperti dibawah ini;
“Badaningsun jasmani wus suci, ingsu…n gawa marang kaanan(kahanan)
jati tanpa jalaran pati, bisa mulya sampurna waluya urip salawase, ana
ing ‘alam donya ingsun urip tumekane ‘alam kaanan(kahanan) jati ingsun
urip, saka kodrat iradatingsun, dadi sakciptaningsun, ana
sasedyaningsun, teka sakarsaningsun.”
“Badan jasmaniku telah suci, kubawa dalam keadaan nyata (hidup yang
sesungguhnya), tidak diakibatkan kematian, dapat mulai sempurna hidup
abadi selamanya, di dunia aku hidup, sampai dialam nyata ( hidup yang
sesungguhnya ,akherat=Akhiring Rat) aku juga hidup, dari kodrat
iradatku, terjadi apa yang kuciptakan, apa yang kuinginkan ada dan
datang apa yang kukehendaki.”
Wedaran Menghacurkan Jasad.
Adapun pesan beliau Kangjeng Susuhunan di Kalijogo sebagai berikut:
“Siapapun yang menginginkan dapat menghancurkan tubuh seketika atau
terjadinya mukjijat seperti para Nabi, mendatangkan keramat seperti para
W…ali, mendatangkan ma’unah seperti para Mukmin Khas, dengan cara
menjalani tapa brata seperti pesan dari Kangjeng Susuhunan di Ampel
Denta
- Menahan hawa nafsu, selama seribu hari siang dan malam sekalian
- Menahan Syahwat (Seks), selama seratus hari siang dan malam
- Tidak berbicara, artinya membisu dalam empatpuluh hari siang dan malam
- Puasa padam api ( pati geni ) tujuh hari tujuh malam
- Puasa padam api ( pati geni ) tujuh hari tujuh malam
- Jaga, lamanya tiga hari tiga malam
- Mati raga, tidak bergerak-gerak lamanya sehari semalam
Adapun pembagian waktunya dalam lampah seribu hari seribu malam itu begini caranya:
- Menahan hawa nafsu, bila telah mendapat 900 hari, lalu diteruskan dengan;
- Menahan syahwat selama 40 hari lalu dirangkap juga dengan;
- Membisu tanpa berpuasa selama 40 hari. Adapun membisu bila sampai pada 33 hari dilanjutkan dengan;
- Pati geni selama 7 hari tujuh malam, setelah mendapat 4 hari 4 malam dilanjutkan dengan;
- Menahan hawa nafsu, bila telah mendapat 900 hari, lalu diteruskan dengan;
- Menahan syahwat selama 40 hari lalu dirangkap juga dengan;
- Membisu tanpa berpuasa selama 40 hari. Adapun membisu bila sampai pada 33 hari dilanjutkan dengan;
- Pati geni selama 7 hari tujuh malam, setelah mendapat 4 hari 4 malam.
Adapun caranya untuk Pati raga adalah Tangan bersidakep kaki membujur
lurus dan menutup 9 lubang di tubuh, tidak bergerak-gerak, menahan
berdehem, batuk, tidak meludah, tidak berak, tidak kencing selama sehari
semalam. Yang bergerak hanya kedipan mata, tarikan nafas, anafas,
tanafas, nufus, artinya tinggal keluar masuknya nafas yang tenang jangan
sampai tersengal sengal campur baur.
Kyai Penghulu Ahmad Kategan menjawab: “Adapun perlunya pati raga itu,
sebagai sarana melatih kenyataan, supaya dapat mengetahui pisah dan
kumpulnya Kawula Gusti, bagi para pakar ilmu kebatinan pada jaman kuno
dulu dinamakan dapat Meraga Sukma, artinya berbadan sukma, oleh
karenanya dapat mendakatkan yang jauh, apa yang dicipta jadi, mengadakan
apapun yang dikehendaki, mendatangkan sekehendaknya, semuanya itu dapat
dijadikan suatu sarana pada awal akhir. Bila dipergunakan ketika masih
hidup di Dunia ada manfaatnya, begitu juga dipergunakan kelak bila telah
sampai pada sakaratul maut.
Urutan dalam Kematian dan Apa yang harus Dilakukan
Walaupun hanya panuwunan, yang dilewati juga alam
kematian, kalau sampai lengah juga berakhir mati atau mati benar-benar.
Adapun tata caranya begini : Sedakep dengan kaki lurus berdempet,
menutup kesemua lubang, jari-jari kedua belah tangan saling bersilang,
ibu jari bertemu keduanya, lalu ditumpangkan di dada. Dalam sikap tidur
itu kedua belah kaki diluruskan, ibu jari kaki saling bertem…u, kontol
ditarik keatas dan zakarnya sekalian, jangan sampai terhimpit paha.
Pandangan memandang lurus dari ujung hidung lurus ke dada hingga tampak
lurus melalui pusar hingga memandang ujung jari . Setelah semuanya dapat
terlihat lurus maka memulai menarik nafas tadi. Dari kiri tariklah
kekanan dan dari arah kanan tariklah kekiri. Kumpulnya menjadi satu
berada di pusar beberapa saat lamanya, maka tariklah keatas pelan-pelan
jangan tergesa-gesa. Kumpulkan nafas, tanafas, anafas, nufus diciptakan
menjadi perkara gaib. Lalu memejamkan mata dengan perlahan-lahan,
mengatubkan bibir dengan rapat, gigi dengan gigi bertemu. Pada saat
itulah menheningkan cipta, menyerah dengan segenap perasaan yang telah
menyatu, pasrah kepada Pangeran kita pribadi. Setelah itu, lalu
memantrapkan adanya Dzat, seperti dibawah ini:
Anjumenengkan Dzat:
“Ingsun Dzating Gusti Kang Asifat Esa, anglimputi ing kawulaningsun, tunggal dadi sakahanan, sampurna saka ing kudratingsun.”
“Aku mengumpulkan Kawula Gusti yang bersifat Esa, meliputi dalam kawulaku, satu dalam satu keadaan dari kodrat-Ku.”
Mengatur Istana:
“Ingsun Dzat Kang Maha Luhur Kang Jumeneng Ratu Agung, kang amurba
amisesa kang kawasa, andadekake ing karatoningsun kanga gung kang amaha
mulya. Ingsun wengku sampurna sakapraboningsun, sangkep, saisen-isening
karatoningsu…n, pepak sabalaningsun, kabeh ora ana kang kekurangan, byar
gumelar dadi saciptaningsun kabeh saka ing kudratingsun.”
“Aku Dzat yang Maha Luhur, yang menjadi Raja Agung. Yang menguasai
segala sesuatu, yang kuasa menjadikan istana-Ku, yang Agung Maha Mulia,
Ku Kuasai dengan sempurna dari kebesaran-Ku, lengkap dengan segala
isinya Keraton-Ku, lengkap dengan bala tentara-Ku, tidak ada kekurangan,
terbentang jadilah semua ciptaanKu, ada segala yang Ku-inginkan, karena
kodrat-Ku.”
Meracut Jisim:
“Jisimingsun kang kari ana ing alam dunya, yen wis ana jaman
karamat kang amaha mulya, wulu kulit daging getih balung sungsum
sapanunggalane kabeh, asale saka ing cahya muliha maring cahya, sampurna
bali Ingsun maneh, saka ing kodratingsun.”
“Aku meracut jisim-Ku yang masih tertinggal di alam dunia, bila telah
tiba di zaman keramatullah yang Maha Mulia, bulu, kulit,kuku, darah,
daging, tulang, sungsum keseluruhannya, yang berasal dari cahaya, yang
berasal dari bumi, api, angin, bayu kalau sudah kembali kepada anasir-Ku
sendiri-sendiri, lalu akau racut menjadi atu dengan sempurna kembali
kepada-Ku, karena kodrat-Ku.”
Menarik Anak:
“Aku menarik anak-Ku yang sudak pulang kerahmatullah, kaki,
nini, ayah, ibu, anak dan isteri, semua darah-Ku yang memang salah
tempatnya, semuanya Aku tarik menjadi satu dengan keadaan-Ku, mulia
sempurna karena kodrat-Ku.”
Mengukut keadaan Dunia:
“Aku mengukut keadaan dunia, Aku jadikan satu dengan keadaanKu, karena kodrat-Ku.”
Mendo’akan Keturunan:
“Keturunanku yang masih tertinggal di alam dunia, semuanya
semoga mendapatkan kebahagiaan, kaya dan terhormat, jangan sampai ada
yang kekurangan, dari kodrat-Ku.”
Mengamalkan Aji Pengasihan:
“Aku mengamalkan Aji pengasih, kepada semua mahkluk-Ku, besar,
kecil, tua, muda, laki-laki, perempuan, yang mendengar dan melihat
semoga welas asih padaKu, karena kodrat-Ku.”
Menerapkan Daya Kesaktian :
“Aku menerapkan Daya Kesaktian, kepada semua mahkluk-Ku, barang
siapa yang tidak mengindahkan Aku, akan terkena akibat dari
kesaktian-Ku, karena kodrat-Ku.”
Setelah begitu, maras menutup di hati, menimbulakan rasa sesak nafas,
oleh karenanya harus selalu ingat dan sentosa, jangan sampai kacau
balau pernapasannya, tanafas, anpas, nuppus tadi, karena nafas itu
ikatan jisim, berada di hati suweddha, artinya menjembatani fikiran yang
suci, keadaanya jadilah angin yang keluar saja. Tannapas itu talinya
hati siri, letaknya di pusar, keadaannya menjadi hawa yang berada dalam
tubuh saja. Anpas itu adalah talinya Roh, berada di dalam jantung,
keadaannya hanyalah menjadi angin di dalam saja. Nupus itu tali Rahsa,
artinya berkaitan dengan Atma, berada di dalam hati pusat yang putih,
berada di pembuluh jantung, keadaannya menjadi angin yang kekiri
kekanan, dari ulah perbuatannya itu dapat meliputi segenap organ tubuh
dan rokhani.
Bila sudah begitu roh larut lalu terasalah kram seluruh organ tubuh,
mengakibatkan mata menjadi kabur, telinga menjadi lemas, hidungpun lemah
lubang hidung menciut, lidah mengerut, akhirnya cahaya suram, suara
hilang, yang tinggal hanyalah hidupnya fikir saja, karena sudah
dikumpulkan ururtan syare’at, hakekat, tarekat, dan makrifat.
- Syare’at itu lampahnya badan, berada di mulut
- Hakekat itu lampahnya nyawa, berada di telinga
- Tarekat itu lampahnya hari, berda di hidung
- Makrifat itu lampahnya rahsa, berada di mata
Adapun yang ditarik terlebih dahulu adalah penglihatannya mata,
diumpamakan kaburnya kaca Wirangi, atau asalnya air Zam-zam Lalu rasanya
mulut, diumpamakan rusaknya jembatan Siratalmustakim, atau Ka’batullah.
Lalu penciumannya hidung, yang diumpamakan gugurnya gunung Tursina
atau robohnya gunung Ikrap Lalu pendengarannya telinga, diumpamakan
hancurnya sajaratulmuntaha, atau melorotnya Hajaratu’l Aswad. Kemudian
tinggallah merasakan nikmat pada seluruh bagian tubuh, melebihi
kenikmatan ketika sedang bersenggama pada saat sedang mengeluarkan
rahsa, pada saat itulah batinlah suatu tekad yang kuat, seperti
diibaratkan huruf Alif yang berjabar (berfathah), diejer (kasroh), da
diepes (berdlomah) bunyinya menjadi: A. I. U
- A artinya : Aku
- I artinya : Ini
- U artinya : Hidup (urip)
Setelah itu menciptakan kerinduan kepada Dzat, bagaikan merindukan
kepada Dyah Ayu, supaya jangan sampai igat kepada anak cucu yang
ditinggalkan. Karena akan keliru ciptanya yang akhirnya mengakibatkan
melesetnya dari tujuan yang sebenarnya…. Semua itu tinggal menimbang
pertimbangannya ciptanya pribadi, didalam tiga pangkat :
a. Yang pertama, bila benar-benar sentausa, akan mendapatkan anugerah
dari Pangeran, dapat hidup diawal akhir, langgeng tidak mengalami
perubahan.
b. Yang kedua, berhubung dicapai waluya sejati, padahal tidak
mengalami menderita sakit, atau tidak mempuyai dosa, maka dapat
melakukan berbadan sukma.
c. Yang ketiga, bila didalam ciptanya masih ada rasa ragu-ragu,
bimbing, pada akhirnya hayatnya pasti akan menemukan tiwas ke tempat
yang salah.
Ini kawruh manunggaling kawula gusti, ilmu luhur…kawruh yg luar
biasa…tanpa tanding…ilmunya raja2 jawa..tetap hrs di mulai dr dasar..ini
yg ku keluarkan sebatas wacana, ora ono ilmu tanpa laku..